edisiana.com – Atletico Madrid menghadirkan malam penuh badai di Metropolitano. Barcelona dilumat tanpa ampun: empat gol, tanpa balas, dan segalanya terasa seperti mimpi buruk bagi tim tamu.
Semifinal Copa del Rey leg pertama berubah menjadi panggung dominasi rojiblanco — dan tragedi bagi Eric García.
Bencana Blaugrana dimulai lebih cepat dari yang bisa mereka bayangkan. Sebuah umpan balik Eric García kepada Joan García berubah menjadi mimpi buruk: bola meluncur di bawah kaki sang kiper dan masuk ke gawang sendiri.
Gol pembuka itu bukan sekadar angka di papan skor — itu adalah awal runtuhnya Barcelona.
Empat belas menit berselang, luka itu makin dalam. Antoine Griezmann, dengan ketenangan seorang algojo, melepaskan tembakan melengkung yang indah ke gawang mantan klubnya. Selebrasi? Dingin. Eksekusi? Mematikan.
Sejak saat itu, Atleti mengambil alih panggung. Setiap serangan terasa seperti ancaman nyata. Setiap transisi seperti hukuman yang menunggu dijatuhkan.
Barcelona sempat bernapas ketika Fermin Lopez menghantam tiang gawang. Namun itu hanya ilusi harapan di tengah dominasi total tuan rumah. Atleti terus menekan, terus memburu.
Gol ketiga lahir pada menit ke-33 lewat skema cepat dari sisi kanan. Giuliano Simeone menusuk sebelum menyodorkan bola kepada Julian Alvarez.
Mantan bintang Manchester City itu dengan cerdas mengalirkannya kepada Ademola Lookman, yang menyelesaikan peluang dengan tenang. Dua gol dalam dua laga untuk rekrutan anyar — dampak instan.
Dan sebelum jeda, Alvarez menutup babak pertama dengan pernyataan keras. Dua bulan dan sebelas laga tanpa gol sirna dalam satu dentuman.
Tembakan jarak jauhnya tak terbendung, menghujam gawang Barcelona pada waktu tambahan. 4-0. Metropolitano bergemuruh.
Babak kedua sempat menghadirkan drama. Cubarsí mencetak gol usai menerima umpan Lewandowski. Namun VAR mengambil alih malam itu.
Pemeriksaan berlangsung lama — delapan menit penuh ketegangan, bahkan para penjaga gawang sampai melempar bola untuk menghangatkan diri. Putusan akhir: offside.
Gol dianulir. Harapan dipadamkan.
Malam buruk Barcelona mencapai klimaks lima menit jelang bubaran.
Eric García, simbol petaka sejak awal, diusir wasit setelah menjatuhkan Alex Baena yang melaju sendirian ke arah gawang. Lengkap sudah derita Blaugrana.
Kini, menurut BBC, Barcelona menghadapi misi nyaris mustahil di leg kedua pada 3 Maret. Mereka harus membalikkan defisit empat gol melawan tim yang telah mengirim pesan tegas: Atletico Madrid belum selesai.
Metropolitano telah berbicara. Dan pesannya menggema keras ke seluruh Spanyol.(maq)










