Mimpi Zerbi Kalahkan Kakak Satu Perguruan

Robert De Zerbi. Foto: BBC

Bola, edisiana.com Roberto De Zerbi bermimpi ingin menaklukkan klub kakak satu perguruan yang kini memegang Manchester City. Namun dalam pertemuan perdana belum bisa. Brighton kalah. 

De Zerbi sempat mengunjungi kakak satu perguruan, Guardiola di Manchester pada awal musim sebelum melatih Brighton. Keduanya berbicara tentang sepak bola di Inggris. 

Pep Guardiola pun mendukung De Zerbi mengambil tawaran klub yang bermarkas di Amex itu. Guardialo pun janji untuk membantunya. 

Sejak dipegangnya, Brighton lumayan bagus. Tim papan atas seperti Chelsea dan Arsenal berhasil dikalahkan. Tatapi kecuali klub Manchester City. “Pep luar biasa dengan saya seperti Bielsa,” katanya dikutip dari Mirror pada Sabtu ini. 

BACA JUGA:  Dembélé Makin Dekat ke Ballon d'Or Setelah Bawa PSG Juara Piala Super Eropa

“Kami memiliki kemungkinan untuk mengalahkan Manchester City. Dengan 80 persen kami bisa kalah tetapi mimpinya adalah untuk menang. Saya ingin mimpi ini. Inilah sepak bola,” tambahnya. 

Dalam kepelatihan De Zerbi memiliki prinsip yang jelas di dalam dan di luar lapangan. Namun dia dengan senang hati mengakui bila ada kesalahannya. 

“Semua pelatih adalah pencuri, tetapi kami harus memiliki satu ide baru. Saya suka mencoba memenangkan pertandingan dengan bola. Saya ingin menikmatinya,” kata bos Brighton yang baru. 

Sebelum De Zerbi menerima pekerjaan di Stadion Amex pada bulan September, dia didekati oleh Bologna. 

BACA JUGA:  Polisi Spanyol: Diogo Jota Diduga Ngebut Sebelum Kecelakaan di Jalan Tol

Klub Serie A marah dan melakukan pemecatan terhadap pelatih Sinisa Mihajlovic. Sementara itu pelatih 53 tahun tengah berjuang melawan leukemia untuk kedua kalinya dalam tiga tahun. 

De Zerbi tidak mengenal Mihajlovic secara pribadi. Tapi dia secara terbuka berterima kasih kepada istri orang Serbia itu, Arianna.

“Salah satu prinsip saya yang paling penting adalah sebelum pelatih, ada seorang pria, ada seseorang,” jelasnya. 

Dia juga merupakan salah pelatih yang menentang Liga Super Eropa. Saat menangani Shakhtar Donetsk telah menunjukkan bahwa dia juga memiliki pedoman ketat tentang etiketnya jauh dari sepak bola.

“Saya tidak ingin menjadi guru kehidupan tetapi saya memiliki – tidak terlalu banyak. Ada empat atau lima aturan dalam gaya hidup saya,” katanya. 

BACA JUGA:  Emma Raducanu Lolos ke Putaran Ketiga Wimbledon Setelah Taklukkan Vondrousova

“Saya sangat peduli untuk menjadi benar dengan semua orang. Dalam hidup saya. Saya bisa menatap mata semua orang dan bersikap benar dan jujur kepada mereka,” ucapnya lagi. (maq)