edisiana.com – Paris Saint-Germain pulang dari San Mamés dengan kepala tertunduk. Bukan karena kalah, tapi karena tak mampu menaklukkan satu sosok: Unai Simón, sang penjaga gawang Athletic Club yang tampil seperti punya magnet di sarung tangannya.
Hasil akhirnya: 0–0, namun nuansanya jelas—PSG kehilangan dua poin, Athletic mendapatkan satu poin berkat kipernya.
Di babak pertama, PSG mencoba mengambil inisiatif. Fabián Ruiz dua kali menguji peruntungannya, tapi tembakannya justru melambung. Di sisi lain, Oihan Sancet menyia-nyiakan peluang emas setelah menerima umpan matang dari Gorka Guruzeta.
Namun momen terbesar justru hadir saat tambahan waktu babak pertama. Warren Zaïre-Emery mengirimkan umpan silang akurat yang disambar Senny Mayulu. Gol? Tidak, tentu saja tidak—Simón terbang dan menepisnya dengan refleks spektakuler. Itu baru permulaan.
Memasuki babak kedua, skenarionya berubah: PSG total mendominasi. Tetapi semakin besar dominasi, semakin besar pula bayangan Simón di depan gawang.
Mayulu kembali menjadi korban. Bola liar jatuh tepat di kakinya setelah umpan silang Khvicha Kvaratskhelia, dan Simón lagi-lagi muncul seperti dinding tak tertembus.
Kvaratskhelia kemudian mengirim bola kepada Zaïre-Emery yang melepaskan tembakan keras dari tepi kotak penalti—disapu oleh tangan Simón.
Pemain Georgia itu sendiri mencoba peruntungannya, mengirim tembakan melengkung yang hanya melewati sisi gawang.
Lalu giliran Bradley Barcola, yang berhasil menusuk dari kiri pada menit ke-65 tetapi malah menghantam mistar dari jarak dekat. PSG frustrasi, Simón tak tersentuh.
Luis Enrique merespons dengan memainkan Désiré Doué dan Gonçalo Ramos, berharap ada satu momen penyelamat.
Tapi justru Athletic yang hampir mencuri kemenangan. Pada menit ke-80, Álex Berenguer mengirimkan tembakan melengkung yang hanya sedikit melebar.
Tiga menit jelang laga usai, Simón kembali jadi pahlawan. Kali ini ia menahan tembakan Ruiz, dan sepakan susulan gelandang Spanyol itu disapu dari garis gawang oleh Yuri Berchiche. Lengkap sudah pertahanan heroik Athletic.
Pada akhirnya, PSG menguasai bola, mengontrol laga, menciptakan peluang—tapi tidak mencetak gol. Athletic mungkin menderita, tetapi mereka bertahan seperti kesebelasan yang tahu persis bagaimana cara mengacaukan raksasa Eropa.
Melansir ESPN, hasil satu poin yang terasa seperti kemenangan bagi Athletic dan satu malam yang akan terus dikenang Unai Simón, sang tembok San Mamés.(maq)










