Modric Ucapkan Perpisahan Emosional: “Saya Akan Selalu Menjadi Madridista”

Pelatih Xabi Alonso memeluk Luka Modric saat melakukan perpisahan dengan Madrid. Foto: via Daily Mail

edisiana.com – Luka Modric resmi mengakhiri babak paling gemilang dalam karier sepak bolanya bersama Real Madrid setelah tersingkirnya tim dari Piala Dunia Antarklub usai kekalahan 0-4 dari Paris Saint-Germain. Dalam pernyataan perpisahan yang menyentuh hati, Modric menyampaikan rasa syukurnya kepada klub yang telah membentuknya menjadi legenda.

“Real Madrid telah memberikan segalanya bagi saya dalam hal sepak bola dan untuk itu saya akan selalu bersyukur. Saya akan selalu menjadi seorang Madridista. Apa yang saya alami memberi saya lebih banyak kebahagiaan,” ujar Modric dikutip dari Daily Mail pada Jumat ini.

Pemain berusia 39 tahun itu meninggalkan Real Madrid sebagai pemain tersukses dalam sejarah klub. Dalam 13 tahun pengabdiannya, Modric mempersembahkan enam trofi Liga Champions, empat gelar LaLiga, serta satu Ballon d’Or — menjadi simbol kejayaan era modern Madrid.

BACA JUGA:  Dituduh Sembunyikan Biaya Transfer, Neymar, dan Barcelona Bakal Diadili

Modric kini akan memulai babak baru dalam kariernya di Serie A bersama AC Milan, menjelang musim 2025/26. Ia juga telah mengambil langkah menuju dunia kepemilikan klub dengan mengakuisisi saham minoritas di Swansea City, klub Championship Inggris.

Ini menjadikannya bagian dari gelombang pemain aktif yang mulai merambah dunia kepemilikan klub, mengikuti jejak Kylian Mbappé dan N’Golo Kanté.

Dalam momen perpisahan, Modric menerima penghormatan besar dari para fans serta pelukan hangat dari manajer interim Madrid sekaligus mantan rekan setimnya, Xabi Alonso.

BACA JUGA:  Didier Deschamps Tanggapi Kritik PSG Soal Cedera Dembélé dan Doué

Total, ia mencatatkan 597 penampilan bersama Los Blancos — sebuah angka luar biasa yang mencerminkan konsistensi dan pengaruh besarnya di lini tengah selama lebih dari satu dekade.

“Saya sangat bahagia dan yakin seiring waktu saya akan lebih menyadari apa yang telah saya capai. Angka-angka itu membuat saya bangga. Menjadi pemain yang memenangkan gelar terbanyak di klub terbesar dalam sejarah sepak bola adalah sesuatu yang sungguh mengesankan,” tambahnya.

Dengan kepergian Modric, Madrid tidak hanya kehilangan seorang maestro lapangan tengah, tapi juga seorang pemimpin dan panutan. Namun, warisan yang ia tinggalkan akan terus hidup dalam sejarah klub dan di hati para Madridista di seluruh dunia.(maq)