El Clasico untuk Jaga Harga Diri dan Sejarah

Hans Flick merayakan trofi pertama bersama Barcelona di Piala Copa Del Rey. Foto: via ESPN

edisiana.com – El Clásico akhir pekan ini benar-benar terasa seperti klimaks dari musim LaLiga yang penuh drama — bukan hanya soal rivalitas, tapi juga soal harga diri, sejarah, dan nasib dua pelatih besar: Hansi Flick dan Carlo Ancelotti.

Barcelona memang punya keunggulan psikologis setelah menang di pertemuan sebelumnya musim ini, tapi tekanan luar biasa membayangi mereka, apalagi usai tersingkir dari Liga Champions.

Di sisi lain, Real Madrid yang dipimpin Mbappé jelas tak akan menyerah begitu saja — apalagi kalau ini bisa jadi pertandingan penentu bagi warisan Ancelotti.

Laga ini bukan cuma soal tiga poin, tapi bisa jadi penentu arah masa depan kedua klub. Makanya, laga ini bisa disebut El Classico klasik.

ESPN menyebutka, laga Clásico jarang terjadi di akhir musim ini, apalagi jika taruhannya sangat besar bagi kedua klub.

Faktanya, dalam 30 tahun terakhir, hanya satu Clásico yang terjadi kemudian: kemenangan 1-0 Barcelona atas Madrid — yang tetap memenangkan liga, dengan Barça finis di posisi tiga dan sembilan poin di belakang — pada 27 Mei 1995.

BACA JUGA:  Kalah Lagi, Burnley Susah Keluar dari Zona Degradasi

Namun, di sinilah kita, pada Matchday 35, dengan gelar liga masih bisa diperebutkan: Barça unggul empat poin, difavoritkan untuk memenangkan liga dan menyelesaikan dua gelar domestik.

Dan Madrid yang bertahan dengan susah payah, berharap untuk memenangkan pertandingan ini dan agar Barça hancur dalam tiga pertandingan berikutnya.(maq)