edisiana.com – Rabat bergemuruh. Di bawah langit Jumat malam yang sarat emosi, Maroko melangkah ke semifinal Piala Afrika dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Kamerun.
Pertandingan belum sepenuhnya panas ketika Kamerun dihantam pukulan pertama. Menit ke-24, Junior Tchamadeu terkapar, lututnya tak sanggup melanjutkan. Pergantian terpaksa itu memecah konsentrasi Singa Perkasa—dan Maroko mencium darah.
Tak lama berselang, sepak pojok Achraf Hakimi menjadi awal malapetaka. El Kaabi memenangkan duel udara dan mengarahkan bola ke Brahim Díaz.
Dengan ketenangan khas pemain besar, Díaz mengecoh Tolo dan menaklukkan Devis Epassy dari jarak dekat. Rabat meledak.
Maroko tak mengendur. Menit ke-37, El Kaabi kembali menjadi arsitek, kali ini memberi bola kepada Abde Ezzalzouli. Pemain sayap Real Madrid itu mencoba peruntungannya dengan tembakan melengkung kaki kanan—indah, tetapi hanya lewat tipis di sisi gawang.
Statistik berbicara jelas saat jeda: hampir 60% penguasaan bola untuk Maroko, lima tembakan berbanding dua. Lapangan sepenuhnya milik tuan rumah.
Babak kedua berjalan dengan nada yang sama. Ezzalzouli kembali mengancam lewat sundulan keras hasil sepak pojok, namun bola masih melayang di atas mistar.
Kamerun bertahan dengan napas tersengal.
Menit ke-60, drama di garis gawang. Kotto menjadi pahlawan sesaat Kamerun, menyapu bola yang hampir masuk setelah Saibari menyambut umpan silang Hakimi dan bertabrakan dengan Epassy.
Gol tertunda—bukan dibatalkan.
Kamerun sempat memberi harapan. Menit ke-71, sepak pojok Bryan Mbeumo menemukan Georges-Kevin Nkoudou di tiang jauh. Sundulan diving-nya… melenceng. Rabat kembali bernapas lega.
Dan kemudian, palu terakhir dijatuhkan. Menit ke-74, umpan tajam Ezzalzouli dari kanan menemukan Aguerd yang melayang di atas bek Kamerun.
Bola pantul jatuh ke kaki Saibari, bebas tanpa kawalan. Satu sentuhan, satu tembakan keras ke sudut gawang. 2-0. Selesai.
Kamerun pulang dengan kepala tegak, setelah turnamen yang diawali persiapan kacau namun diakhiri perlawanan terhormat. Namun malam ini milik Maroko.
Dengan kepercayaan diri yang kembali menyala setelah performa yang sempat tersendat, Singa Atlas kini mencium kesempatan emas.
Penantian hampir 50 tahun untuk mahkota Afrika terasa lebih dekat dari sebelumnya. Di Rabat, mimpi itu hidup.(maq)










