Kisah Messi London Saat Mendapat Kutukan

Marcus Edwards dijuluki Messi dari London. Foto: via Daily Mail

edisiana.com – “Kualitasnya, tubuhnya, dan cara bermainnya, sedikit mengingatkan pada Messi.”

Pernyataan itu dari bos Tottenham Hotspur  Mauricio Pochettino, saat menjabat manajer pada tahun 2016 yang mengomentari Marcus Edwards seperti dilansir BBC pada Ahad ini.

Edwards bergabung dengan Tottenham pada usia delapan tahun. Saat menimba ilmu di akademi Spurs itu kemampuannya  dibandingkan dengan salah satu pemain terhebat sepanjang masa, Lionel Messi.

Seperti yang sering terjadi, perbandingan dengan Messi terbukti menjadi kutukan. Saat dia masuk klub utama, perjalanan karirnya penuh dengan liku-liku.

Dia sempat dipinjamkan ke Norwich dan Excelsior di Belanda, Edwards dilepas hanya tiga tahun kemudian.

BACA JUGA:  Ternyata Ini Alasan Ten Hag Tidak Bisa Jual Ronaldo

Tanpa klub pada usia 20 tahun, Edwards mengambil keputusan berani untuk pindah ke luar negeri, menandatangani kontrak empat tahun dengan Vitoria Guimaraes di liga utama Portugal.

Di sana ia menghabiskan dua setengah musim. Yang mana ia melakoni debutnya di Eropa lewat Liga Europa sebelum Sporting mengontraknya pada Januari 2022.

Di bawah manajemen bos Manchester United sekarang Ruben Amorim, saham Edwards meningkat secara signifikan. Sampai-sampai ia dikaitkan dengan kepindahan ke Liverpool.

Dalam 120 penampilan untuk Sporting ia memberikan 26 assist dan mencetak 24 gol. Salah satunya tercipta saat melawan mantan klubnya Tottenham pada penampilan keduanya sepanjang kariernya di Liga Champions.

BACA JUGA:  Madrid Menang Telak 4-1 Melawan Espanyol

Namun musim ini tidak berjalan sesuai rencana. Kepergian Amorim ke United, ditambah dengan absennya Edwards selama sebulan karena cedera, menyebabkan Edwards tidak lagi disukai.

Penampilan terakhirnya untuk Sporting terjadi pada tanggal 30 November, lebih dari dua bulan sebelum ia bergabung dengan Burnley di akhir jendela transfer Januari kemarin.

Pelatih  yakin dengan kemampuannya dan tidak khawatir tentang perilaku dan ketepatan waktunya dalam mengeksekusi bola.

“Dia adalah seorang anak muda di London dan sekitarnya dan ketika dia masih kecil, terkadang ada perbedaan dalam cara  bersikap. Tapi dia telah dewasa dan tidak dapat disangkal bahwa dia memiliki bakat yang istimewa,” kata manajer Burnley Scott Parker.(maq)