edisiana.com – Arsenal membuang peluang emas untuk menjauh delapan poin di puncak klasemen Premier League. Di hadapan publik Emirates, The Gunners harus puas dengan hasil imbang tanpa gol melawan Liverpool dalam duel yang penuh tensi.
Tim asuhan Mikel Arteta tampil dominan sepanjang 45 menit pertama. Bola dikuasai, tekanan dibangun, namun ironisnya peluang paling berbahaya justru datang dari kaki Liverpool.
Kesalahan komunikasi fatal antara David Raya dan William Saliba dimanfaatkan Conor Bradley, yang melepaskan tembakan lambung cerdik—sayang hanya membentur mistar gawang.
Arsenal membanjiri kotak penalti dengan umpan silang demi umpan silang, tetapi tak satu pun berujung gol. Ketajaman yang diharapkan tak kunjung hadir.
Babak kedua menjadi milik Liverpool. Intensitas meningkat, serangan lebih tajam, dan lini depan The Reds terlihat jauh lebih mengancam. Namun, seperti Arsenal, efektivitas menjadi masalah. Kedua tim akhirnya harus menerima kenyataan pahit: tak ada gol, tak ada pemenang.
Drama memuncak di masa tambahan waktu. Gabriel Martinelli, yang masuk sebagai pemain pengganti, memicu kemarahan kubu Liverpool. Dalam momen kontroversial, winger Brasil itu terlihat mendorong Conor Bradley yang terjatuh akibat cedera lutut serius, memicu keributan di pinggir lapangan.
Martinelli segera diamankan wasit, sementara Bradley harus meninggalkan lapangan dengan tandu, wajahnya tertutup tangan—sebuah akhir pahit bagi bek muda Liverpool.
Hasil imbang ini membuat Arsenal tetap bertengger di puncak klasemen dengan keunggulan enam poin dari pesaing terdekat.
Liverpool, di sisi lain, menurut BBC, harus puas bertahan di posisi keempat, membawa pulang satu poin berharga dari London—dan meninggalkan Emirates dengan rasa “nyaris”.(maq)










