edisiana.com – Manchester United kembali gagal berdiri tegak. Di hadapan Burnley—tim papan bawah Liga Inggris—Setan Merah hanya mampu merangkak pulang dengan hasil imbang 2-2, sebuah skor yang terasa seperti kekalahan.
Malam Rabu berubah menjadi mimpi buruk sejak awal. Gol bunuh diri Ayden Heaven menghadiahkan keunggulan bagi Burnley di babak pertama, membuat United kembali mengejar bayangan mereka sendiri. Namun saat kekalahan seolah sudah ditakdirkan, Benjamin Sesko muncul sebagai penyelamat—mencetak gol dan menyalakan harapan.
Harapan itu kembali padam… lalu menyala lagi. Ketika United hampir tenggelam untuk kesekian kalinya, Jaidon Anthony datang menghantam dengan gol penyeimbang. Skor 2-2. Titik. Tapi luka tetap menganga.
Bagi Darren Fletcher, pelatih sementara United, ini adalah malam yang pahit. Ia berani meninggalkan pakem Amorim—memasang tiga bek tengah dan bek sayap—dan keputusannya sebenarnya melahirkan banyak peluang. Tapi sepak bola tak mengenal kata “seharusnya”.
Matheus Cunha dan Patrick Dorgu melihat gol mereka disapu dari garis gawang. Lisandro Martinez sempat menjebol gawang Burnley, namun dianulir wasit akibat dorongan kontroversial terhadap mantan bek United, Kyle Walker.
Old Trafford berteriak, wasit bergeming.
Sesko seharusnya menjadi pahlawan mutlak. Ia punya peluang emas untuk mencetak hat-trick, tapi semuanya terbuang.
Bahkan remaja Shea Lacey, yang masuk sebagai pemain pengganti, hampir mencuri sorotan lewat tembakan melengkung indah—namun mistar gawang berkata tidak.
Di tribun, api kemarahan sudah menyala bahkan sebelum laga dimulai. Para pendukung tim tamu membentangkan spanduk yang mengecam Sir Jim Ratcliffe, sang pemilik minoritas.
Melansir BBC, nyanyian pedas diarahkan ke Joel Glazer, wakil ketua klub. United bukan hanya kalah di lapangan—mereka sedang berperang dengan diri sendiri.
Namun di tengah kekacauan, nostalgia menggema. Nama Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick diteriakkan lantang. Dua sosok yang dianggap bisa memulihkan jiwa klub, setidaknya hingga akhir musim.
United memang tidak kalah di papan skor.
Tapi di mata publik, di mata pendukungnya sendiri, ini adalah malam lain di mana Setan Merah gagal menjadi menakutkan.(maq)











