edisiana.com – Erling Haaland dan Kylian Mbappé dalam satu grup. Hanya itu saja sudah cukup membuat Grup I Piala Dunia 2026 terasa seperti kandang singa. Dua predator gol terbaik dunia akhirnya saling bertemu di panggung yang paling mereka inginkan.
Haaland datang dengan angka yang tak main-main: 16 gol sepanjang Kualifikasi. Mesin Manchester City itu akhirnya mencicipi turnamen besar pertamanya bersama Norwegia—ya, negara yang terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 1994. Penantian panjang yang berubah menjadi ledakan antusiasme.
Di sisi lain ada Mbappé, seorang juara dunia, dua kali finalis, dan wajah sepakbola Prancis modern. Menyebutnya sebagai ancaman adalah meremehkan; Mbappé adalah badai yang berjalan.
Dan kini, keduanya berada dalam satu grup. Satu panggung. Satu ajang pembuktian. Grup I berubah menjadi zona bahaya absolut.
Pelatih Norwegia, Ståle Solbakken, bahkan datang dengan energi yang sama panasnya. Ia melempar pesan percaya diri yang menggema ke seluruh ruang konferensi pers.
“Tim kami bisa mengalahkan siapa pun kapan saja. Banyak pemain punya ayah yang merupakan bagian dari generasi sebelumnya,” ujar Haaland, dikutip dari Daily Mail.
Sementara Prancis? Mereka membuka laga melawan Senegal—dan di situlah memori langsung melompat ke tahun 2002. Kekalahan mengejutkan sang juara dunia kala itu, pertandingan yang melahirkan legenda seperti El-Hadji Diouf, Salif Diao, dan Papa Bouba Diop.
Senegal yang sekarang? Nama-nama besar, generasi Premier League, mental baja. Dan setelah cara mereka membuat Inggris kelimpungan dalam laga uji coba musim panas lalu, mengganggu Prancis bukanlah kejutan seperti dua dekade silam.
Semuanya sudah siap: Haaland yang haus panggung besar, Mbappé yang sudah menguasainya, dan Senegal yang tak ingin lagi menjadi bayangan masa lalu.
Piala Dunia 2026 baru dimulai, tapi Grup I sudah terasa seperti final yang datang terlalu cepat.(maq)










