edisiana.com – Chelsea nyaris menelan kekalahan yang akan dikenang bertahun-tahun. Tapi Alejandro Garnacho, pemain pengganti yang datang dengan aura penyelamat, muncul tepat waktu untuk menghindarkan The Blues dari bencana. Hasil akhir 2-2 di kandang Qarabag dari Azerbaijan di Liga Champions.
Awalnya, segalanya tampak sempurna. Estevão Willian, bocah ajaib berusia 18 tahun, membuka skor pada menit ke-16. Sebuah kombinasi khas Brasil dengan Joao Pedro dan Andrey Santos berujung pada tembakan rendah ke tiang dekat.
Namun kemudian, masa depan itu tampak rapuh. Tujuh perubahan yang dilakukan Enzo Maresca membuat lini belakang kehilangan keseimbangan. Jorrel Hato tampil gugup, dan Qarabag mencium kelemahan itu.
Camilo Duran hampir mencetak gol spektakuler ketika tendangannya membentur tiang. Tapi Leandro Andrade muncul seperti kilat untuk menyundul bola pantul ke gawang kosong. 1-1 — dan tiba-tiba, Chelsea tersentak.
Tak lama kemudian, petaka. Bola silang Andrade mengenai tangan Hato, penalti diberikan, dan Marko Jankovic dengan dingin menipu Robert Sánchez. Qarabag unggul 2-1. Sebuah kejutan besar di London!
Maresca merespons dengan cepat — Romeo Lavia cedera, digantikan Moises Caicedo, dan kemudian masuklah para juru selamat: Enzo Fernández, Liam Delap, dan terutama Garnacho.
Dan benar saja, tujuh menit setelah babak kedua dimulai, pemain Argentina itu membuat pendukung The Blues meledak. Bola panjang dari Delap gagal diantisipasi Kevin Medina, dan Garnacho tanpa ampun melepaskan tembakan melewati Mateusz Kochalski — gol penyeimbang yang menyelamatkan muka Chelsea!
Akhir laga berlangsung mendebarkan. Danny Bolt dan Garnacho sama-sama punya peluang untuk jadi pahlawan, tapi dua-duanya digagalkan kiper lawan.
Hasil imbang ini menukil BBC, membuat Chelsea dan Qarabag sama-sama mengoleksi tujuh poin di fase liga 36 tim Liga Champions.
Dan satu nama yang diingat adalah Garnacho — pemain yang datang dari bangku cadangan untuk menyelamatkan The Blues dari malam yang bisa jadi memalukan.(maq)











