edisiana.com – Jumlah penduduk yang besar ternyata bukan jaminan sebuah negara mampu bersaing di panggung sepak bola dunia. Buktinya, dari 10 negara dengan populasi terbesar di dunia, hanya Amerika Serikat dan Brasil yang berhasil tampil di turnamen sepak bola paling bergengsi saat ini.
Sementara itu, Indonesia masih menjadi salah satu negara berpenduduk besar yang belum mampu mengamankan tiket ke pesta sepak bola empat tahunan tersebut.
Beberapa negara lain sebenarnya pernah merasakan atmosfer putaran final. Rusia dan Nigeria tercatat tampil dalam beberapa edisi Piala Dunia. Adapun China hanya sekali lolos, yakni pada edisi 2002. Indonesia juga pernah tampil satu kali ketika masih bernama Hindia Belanda pada Piala Dunia 1938.
Di sisi lain, India, Bangladesh, Ethiopia, dan Pakistan hingga kini belum pernah tampil di putaran final. India sebenarnya sempat lolos ke Piala Dunia 1950 di Brasil. Namun, negara tersebut memutuskan mundur kurang dari satu bulan sebelum turnamen dimulai.
Kondisi tersebut dinilai menjadi ironi, terutama bagi negara-negara yang memiliki basis penggemar sepak bola sangat besar. Penggemar sepak bola Bangladesh, Audite Karim, menilai negaranya seharusnya mampu berbicara lebih banyak di level internasional.
“Sungguh tidak dapat diterima bahwa sebuah negara dengan jutaan penggemar sepak bola tertinggal jauh dalam bidang sepak bola,” ujarnya.
Lantas, mengapa negara dengan populasi besar belum tentu sukses di sepak bola?
Secara teori, jumlah penduduk yang besar memang memperluas peluang menemukan talenta berbakat. Semakin banyak populasi, semakin besar pula potensi atlet yang dapat direkrut untuk memperkuat tim nasional.
Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Akademisi sekaligus ekonom asal Inggris Stefan Szymanski menilai populasi hanya menjadi salah satu elemen dalam membangun prestasi sepak bola.
Menurut dia, sepak bola memiliki kemiripan dengan sistem ekonomi suatu negara. Jumlah sumber daya manusia memang penting, tetapi harus didukung modal serta infrastruktur yang memadai.
“Sepak bola sangat mirip dengan cara kerja ekonomi nasional. Agar ekonomi berkembang, Anda membutuhkan orang. Tetapi Anda juga membutuhkan modal dan infrastruktur,” kata Szymanski dikutip dari BBC pada hari ini.
Ia menambahkan, dalam sepak bola, modal tersebut diwujudkan melalui fasilitas pelatihan yang baik serta sistem pencarian dan pembinaan bakat yang efektif.
“Dalam sepak bola, itu berarti fasilitas pelatihan dan kemampuan untuk menemukan bakat,” tambahnya.
Fakta tersebut juga terlihat dari negara-negara peraih gelar Piala Dunia. Tujuh dari delapan negara yang pernah menjadi juara, yakni Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol, memang memiliki populasi yang relatif besar.
Namun, keberhasilan mereka tidak hanya ditopang jumlah penduduk, melainkan juga sistem pembinaan pemain, kompetisi yang kompetitif, serta infrastruktur sepak bola yang berkembang selama bertahun-tahun.
Dengan demikian, populasi besar dapat menjadi modal awal, tetapi tidak otomatis menghadirkan prestasi. Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, fasilitas yang memadai, dan sistem pengembangan pemain yang baik, jumlah penduduk hanya akan menjadi potensi yang belum tentu menghasilkan kesuksesan di panggung sepak bola dunia.(maq)











