edisiana.com – Malam yang seharusnya menjadi awal era baru justru berubah menjadi mimpi buruk. Sevilla dipermalukan 0-3 oleh Levante—tim juru kunci La Liga.
Pertandingan pada Ahad malam itu merupakan debut Luís Castro sebagai pelatih, sebuah hasil yang mengguncang Sánchez-Pizjuán dan memperdalam krisis Nervión.
Ironisnya, Sevilla mengawali pertandingan dengan penuh keyakinan. Dominasi sejak menit awal membuat kemenangan tampak hanya soal waktu.
Peluang emas sudah hadir pada menit kedelapan ketika Alexis Sánchez menyundul bola dari jarak dekat setelah menerima umpan silang Juanlu Sánchez.
Namun Mathew Ryan tampil sigap, menggagalkan peluang tersebut dengan penyelamatan krusial tepat di tengah gawang.
Saat Sevilla terus menekan, justru Levante yang memberi pukulan telak. Di masa tambahan waktu babak pertama, Iker Losada memecah kebuntuan.
Dengan ketenangan luar biasa, ia mengarahkan bola ke sudut kiri bawah gawang Sevilla, membungkam stadion dan mengubah arah pertandingan.
Sevilla mencoba bangkit selepas jeda. Nemanja Gudelj hampir menyamakan kedudukan lewat tembakan keras dari luar kotak penalti, tetapi lagi-lagi Mathew Ryan berdiri kokoh di bawah mistar dan menepis bola dengan refleks gemilang.
Dan ketika Sevilla kehilangan keseimbangan, Levante kembali menghukum. Serangan balik cepat yang dipimpin Luis Morales berakhir di kaki Carlos Espí, yang menyelesaikannya dengan sepakan kaki kiri akurat ke sudut kanan bawah. Efisien, dingin, dan mematikan.
Penderitaan Sevilla ditutup oleh gol berkelas Carlos Álvarez. Kervin Arriaga mengirim umpan cantik ke dalam kotak penalti, dan Álvarez menyambutnya dengan penyelesaian tenang ke sudut kiri bawah—sebuah sentuhan akhir yang menegaskan malam kelam tuan rumah.
MD menyebut Levante, yang datang sebagai tim terbawah klasemen, pulang dengan kemenangan bersejarah.
Sementara Sevilla harus menghadapi kenyataan pahit: era baru di bawah Luís Castro dimulai dengan tamparan keras yang menggema di seluruh La Liga.(maq)










