edisiana.com – Tidak ada yang dilupakan di Giuseppe Meazza. Inter Milan datang dengan satu misi: membalas luka. Dan Bologna yang menjadi korban. Kemenangan 3-1 menjadi jawaban telak atas kekalahan adu penalti di semifinal Piala Super beberapa pekan lalu. Dendam tuntas. Pesan jelas.
Sejak menit awal, Inter tampil buas. Dalam sepuluh menit pertama saja, tiga tembakan dilepaskan. Dua dari Marcus Thuram, satu dari Lautaro Martínez yang bergerak tanpa henti. Satu-satunya penghalang adalah Ravaglia, yang tampil seperti tembok.
Permainan sempat melambat, tetapi pasukan Chivu tidak pernah benar-benar mengendur. Jika gol pertama terlambat hadir, itu semata karena penampilan heroik sang kiper Bologna.
Dalam dua menit, ia melakukan tiga penyelamatan luar biasa, membuat Lautaro menggeleng frustrasi.
Namun tekanan tanpa henti akhirnya memecah segalanya.
Menit ke-38, Lautaro sang kapten membuka jalan. Umpan rendah di tepi kotak penalti disodorkan kepada Piotr Zielinski yang datang dari lini kedua. Tembakan kaki kiri. Keras. Tanpa ampun. Gol.
Awal babak kedua menjadi panggung sang Toro. Umpan Çalhanoglu meluncur ke jantung kotak penalti. Lautaro melompat paling tinggi, mengalahkan semua penjaga, dan menanduk bola masuk. Gol yang terasa seperti keadilan setelah kerja keras panjang.
Bologna benar-benar runtuh dari bola mati. Kali ini dari sisi lain. Dimarco mengirim sepak pojok, Thuram menyambar di tiang dekat. Sundulan tajam. 3-0.
Setelah itu, Inter menurunkan tempo. Kontrol penuh. Tanpa kepanikan. Castro hanya mampu memperkecil kedudukan jelang akhir laga—sekadar catatan.
Menukil MD, Inter kembali ke puncak klasemen Serie A, unggul atas Napoli dan AC Milan, yang juga sama-sama menang akhir pekan ini.Namun tidak ada waktu untuk bernapas. Jadwal padat menanti. Dan akhir pekan depan.
Inter vs Napoli. Duel puncak. Takdir sedang memanggil.(maq)










