edisiana.com – Malam yang membeku di Elland Road berubah menjadi mimpi buruk bagi Leeds United. Satu momen. Satu penalti. Satu nama: Habib Diarra.
Gol tunggal dari titik putih membawa Sunderland mencuri kemenangan berharga pada Rabu dini hari. Tiga poin emas. Pukulan telak bagi tuan rumah.
Leeds Dominan, Tapi Tumpul
Leeds sebenarnya tampil lebih hidup. Intensitas tinggi, tekanan konstan, dan penguasaan bola yang lebih meyakinkan. Namun di sepertiga akhir? Kosong. Tanpa presisi. Tanpa ketajaman.
Sunderland bermain sabar. Tempo diperlambat. Ritme dipatahkan. Mereka menunggu momen — dan momen itu datang.
Peluang terbaik di babak pertama hadir lewat tendangan bebas Anton Stach. Tapi malam itu milik Melker Ellborg. Sang kiper yang menjalani debutnya tampil berani, menepis bola dengan refleks tajam dan menjaga skor tetap imbang.
Menit ke-70. Ketegangan memuncak.
Diarra maju sebagai algojo. Eksekusinya? Jauh dari sempurna. Bola menghantam pinggul Karl Darlow. Sejenak publik tuan rumah berharap.
Namun nasib berkata lain. Bola memantul liar, melewati sang kiper, dan bergulir masuk ke gawang.Gol yang aneh. Gol yang beruntung. Tapi tetap gol.
Di masa tambahan waktu, Ellborg kembali menjadi tembok. Sundulan jarak dekat Jaka Bijol ditepis secara luar biasa pada menit ke-12 injury time. Penyelamatan yang menjaga asa tetap hidup — dan memastikan kemenangan tetap milik tim tamu.
Dampak di Klasemen
Bagi Leeds yang duduk di posisi ke-15, kemenangan seharusnya menjadi suntikan moral dalam perjuangan bertahan. Namun kegagalan ini membuka peluang bagi West Ham United, yang berada di tiga terbawah, untuk memangkas jarak menjadi tiga poin jika mampu mengalahkan Fulham.
Sementara itu, melansir BBC, Sunderland tersenyum lebar. Posisi ke-11 kini mereka tempati dengan 40 poin. Lebih manis lagi, ini adalah kemenangan tandang pertama mereka di liga sejak Oktober — kala itu mereka menumbangkan Chelsea.
Elland Road terdiam. Sunderland pulang dengan kejutan. Dan Diarra? Ia pulang sebagai penentu takdir.(maq)











