edisiana.com – Ancaman El Nino dan puncak musim kemarau 2026 menjadi perhatian serius Badan Pengusahaan (BP) Batam. Berbagai langkah antisipatif disiapkan untuk memastikan ketersediaan air baku tetap terjaga dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan, air merupakan kebutuhan dasar yang harus dipastikan ketersediaannya. Karena itu, pemantauan kondisi air bersih terus dilakukan, terutama saat memasuki periode kemarau.
“Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terpenuhi. Untuk itu, BP Batam terus melakukan pemantauan terhadap kondisi air bersih dan mengoptimalkan pengelolaan yang ada agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik, terutama ketika kita menghadapi periode kemarau,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).
Denny menyebut ada empat langkah utama yang disiapkan BP Batam untuk menjaga ketahanan air baku.
Pertama, BP Batam bersama PT ABH melakukan pemantauan kondisi air baku secara real-time. Data mengenai level dan kondisi air menjadi dasar pengelola dalam menentukan langkah operasional. Termasuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku, kapasitas produksi, dan kebutuhan masyarakat.
Kedua, optimalisasi sistem interkoneksi jaringan antarkedung dilakukan untuk mendukung distribusi air baku. Terutama ke wilayah yang terdampak penurunan debit air baku.
Langkah ketiga menyasar aspek lingkungan. BP Batam berupaya memaksimalkan program reboisasi serta perlindungan dan pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA).
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kepedulian terhadap kawasan resapan, penghijauan, hingga pencegahan aktivitas yang berpotensi mengurangi fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan air.
“Menjaga sumber air tidak cukup hanya dengan membangun dan memelihara infrastruktur. Kita juga harus menjaga lingkungan di sekitar sumber air. Ini merupakan tanggung jawab bersama karena keberlanjutan air Batam sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga alam hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, langkah keempat berkaitan dengan pengembangan infrastruktur penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Selain mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada, BP Batam menyiapkan sejumlah opsi pengembangan sumber air.
Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi tersebut menjadi salah satu alternatif pengolahan air laut untuk memperkuat ketahanan air Batam pada masa mendatang.
Tak hanya mengandalkan pemerintah dan pengelola infrastruktur, BP Batam juga mengajak masyarakat berperan dalam menjaga ketahanan air. Salah satunya dengan menggunakan air secara bijak.
Menurut Denny, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan pengelola infrastruktur air akan semakin efektif jika dibarengi kesadaran masyarakat untuk menghemat penggunaan air di tingkat rumah tangga.
Masyarakat diimbau menggunakan air sesuai kebutuhan dan segera mematikan keran setelah digunakan. Instalasi air juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak ada kebocoran.
Selain itu, penggunaan air untuk kebutuhan sekunder dapat dikurangi selama periode kemarau atau cuaca kering. Masyarakat juga diminta ikut menjaga lingkungan dan kawasan tangkapan air.
Termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar kawasan vegetasi.
“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan air Batam. Tidak harus dengan langkah yang besar. Menggunakan air seperlunya, memastikan tidak ada kebocoran di rumah, dan mematikan keran ketika tidak digunakan merupakan langkah sederhana yang dampaknya sangat berarti apabila dilakukan bersama-sama,” pungkas Denny.(maq)











