Cape Verde Memenangi Hati Dunia di Debut Piala Dunia 2026

Vozinha mengangkat bendera Tanjung Verde di depan pendukungnya. Foto: via MD

edisiana.com  – Cape Verde memang harus mengakhiri kiprahnya di Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis 2-3 dari juara bertahan Argentina pada babak 32 besar. Namun, tim debutan itu pulang dengan kepala tegak. Penampilan mereka justru menjadi salah satu kisah paling menarik sepanjang turnamen.

Sebagai negara dengan peringkat ke-67 dunia, Cape Verde datang tanpa banyak ekspektasi. Bahkan, mereka merupakan negara terkecil kedua yang tampil di Piala Dunia 2026. Namun, Blue Sharks berhasil membuktikan bahwa ukuran bukan penentu prestasi.

Mereka membuka kiprah dengan hasil mengejutkan, yakni menahan juara Eropa Spanyol tanpa gol. Hasil itu sekaligus menghadirkan aksi gemilang kiper Vozinha yang tampil heroik menjaga gawangnya tetap perawan.

BACA JUGA:  Bellingham Terancam Terkena Sanksi 12 Pertandingan

Momentum berlanjut ketika Cape Verde mencetak gol pertama mereka di ajang Piala Dunia saat menghadapi Uruguay. Puncaknya terjadi saat melawan Argentina. Gol spektakuler Sidny Lopes Cabral sempat membuat juara bertahan berada dalam tekanan sebelum akhirnya Lionel Messi dan kolega memastikan kemenangan 3-2.

Meski tersingkir, perjuangan Cape Verde menuai pujian dari banyak kalangan. Mantan pemain timnas Skotlandia, James McFadden, menilai Cape Verde telah memberikan makna lebih dari sekadar hasil pertandingan.

“Cape Verde kalah, tetapi mereka menang,” ujarnya dinukil dari BBC pada hari ini.

Menurut McFadden, kisah Cape Verde menjadi salah satu cerita terbaik di Piala Dunia 2026.

BACA JUGA:  Atalanta Tembus ke Posisi Tiga Usai Kalahkan Milan

“Kisah Piala Dunia ini adalah tentang Cape Verde. Itulah yang ingin Anda lihat dari sebuah tim sepak bola,” katanya.

Usai peluit panjang dibunyikan, para pemain Cape Verde tampak terpuruk di lapangan. Kekalahan menyakitkan itu mengakhiri perjalanan bersejarah mereka di turnamen terbesar sepak bola dunia.

Mantan bek timnas Inggris, Gary Neville, juga tak ragu memberikan apresiasi. Menurutnya, Cape Verde menunjukkan salah satu penampilan terbaik yang pernah ia saksikan dari tim nonunggulan di Piala Dunia.

“Mereka menangis karena akan pulang dan tidak ingin pulang. Mereka ingin berada di sini seumur hidup mereka,” ujar Neville.

“Dan ini adalah momen yang mungkin tidak akan terulang lagi bagi sebagian pemain ini. Ini ajaib tetapi juga menyedihkan,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Barcelona Menang 4-3 untuk Menatap Gelar

Meski gagal melangkah lebih jauh, Cape Verde meninggalkan Piala Dunia 2026 dengan sesuatu yang tak kalah berharga: rasa hormat dari dunia sepak bola.(maq)