edisiana com – London kembali berguncang. Tottenham Hotspur resmi memecat Thomas Frank usai kekalahan 1-2 dari Newcastle United, Selasa malam.
Kekalahan itu bukan sekadar tiga poin yang melayang — itu adalah akhir dari era yang bahkan belum sempat benar-benar dimulai.
Gol penentu Newcastle menjadi palu terakhir bagi pria Denmark berusia 52 tahun tersebut. Spurs kini tercecer di peringkat ke-16 Liga Primer, hanya beberapa langkah dari zona bahaya.
Tujuh laga tanpa kemenangan. Sebelas kekalahan musim ini. Statistik yang terlalu berat untuk dipertahankan.
Frank datang pada Juni 2025 dengan harapan besar. Setelah tujuh tahun membangun reputasi bersama Brentford, ia dipercaya memimpin proyek baru di London utara. Namun delapan bulan kemudian, proyek itu runtuh sebelum fondasinya kokoh.
Pernyataan resmi klub tak menyisakan ruang spekulasi: “Klub telah mengambil keputusan untuk melakukan perubahan pada posisi pelatih kepala tim putra dan Thomas Frank akan pergi hari ini,” dikutip dari MetroSports pada hari ini.
“Thomas diangkat pada Juni 2025, dan kami bertekad untuk memberinya waktu dan dukungan yang dibutuhkan untuk membangun masa depan bersama.”
Waktu dan dukungan? Realitanya, hasil tak kunjung datang.
Situasi makin dramatis karena Spurs kini tanpa manajer hanya empat hari sebelum Derby London Utara melawan Arsenal. Di tengah krisis performa, kini datang pula krisis kepemimpinan. Tottenham berada dalam kekacauan.
Menurut laporan itu, klub diperkirakan menunjuk pelatih sementara hingga akhir musim. Namun bursa nama langsung memanas.
Roberto De Zerbi muncul sebagai kandidat kuat. Robbie Keane — legenda klub — ikut disebut. Dan tentu saja, bayang-bayang Mauricio Pochettino kembali menghantui lorong Tottenham Hotspur Stadium.
Musim panas akan menentukan arah baru. Tapi untuk saat ini, satu hal pasti: Frank tamat. Spurs limbung. Dan badai di London utara belum mereda.(maq)










