Tottenham 2–2 Manchester City
edisiana.com – Manchester City yang mengincar mahkota Liga Premier nyaris menang. Namun Dominic Solanke mengayunkan sihirnya. Sebuah tendangan kalajengking yang tak masuk akal, menghantam City tepat di jantung ambisi mereka.
City datang ke London dengan aura juara. Mereka menekan sejak menit awal, mengurung Spurs, dan akhirnya Rayan Cherki membuka keunggulan.
Pertahanan Tottenham membeku, membiarkannya melaju tanpa gangguan sebelum melepaskan tembakan rendah yang tak mampu dijangkau Guglielmo Vicario. Sebuah gol yang terasa seperti vonis.
Cherki hampir menggandakan skor lewat solo run brilian, tetapi sentuhan krusial Vicario menyelamatkan Spurs dari kehancuran total. Namun, penundaan itu hanya sementara.
Gol kedua terasa tak terhindarkan. Kesalahan fatal Radu Dragusin dalam membuang bola dimanfaatkan Rodri, yang dengan dingin mengalirkan bola ke Bernardo Silva.
Satu sentuhan, satu umpan ke Semenyo, dan penyelesaian tenang menutup babak pertama. 2–0. City tersenyum, Spurs dicemooh. Tapi sepak bola selalu menyimpan kegilaan.
Tottenham bangkit dari abu. Setelah jeda, mereka akhirnya menunjukkan nyawa. Gianluigi Donnarumma dipaksa melakukan penyelamatan luar biasa dari tendangan Destiny Udogie, sebelum Spurs menemukan celah harapan.
Solanke mencetak gol pertama, diiringi kemarahan City yang merasa ia melanggar Marc Guehi. Protes, teriakan, frustrasi—semuanya mengalir. Namun drama belum selesai.
Lalu datang momen abadi itu.
Umpan silang Gallagher melayang, dan Solanke—dengan insting liar seorang penyerang sejati—meluncurkan tendangan kalajengking.
Bola berbelok, menipu logika, dan meninggalkan Donnarumma tanpa jawaban. Stadion meledak. City membeku.
2–2. London Utara bergemuruh.
Melansir BBC, hasil ini membuat Manchester City kini tertinggal enam poin dari Arsenal di puncak klasemen. Sebuah malam yang seharusnya menjadi perayaan berubah menjadi peringatan pahit.
Bagi Spurs—yang musim ini kerap tersungkur di kandang—ini adalah bukti karakter, semangat juang yang menolak mati, bahkan ketika segalanya tampak sudah berakhir.
Dan bagi City? Satu tendangan kalajengking mungkin saja telah mengubah arah gelar.(maq)











