edisiana.com – Liga Champions penuh dengan kejutan. Dari tanah Siprus datang cerita ajaib: klub muda Pafos FC menaklukkan Villarreal dengan skor tipis 1-0, menorehkan kemenangan perdana di panggung tertinggi Eropa.
Sang pahlawannya Derrick Luckassen, bek asal Belanda, menjadi nama abadi dalam sejarah klub. Ia mencetak gol sundulan tanpa kawalan di menit ke-46. Umpan pojok sempurna dari Ken Sema, eks sayap Watford, disambutnya dengan tajam—dan sisanya adalah sejarah.
Kapal Selam Kuning Tenggelam Lagi
Villarreal, yang musim ini belum juga meraih kemenangan di Eropa, kembali tampil dominan tapi tumpul. Mereka menguasai bola, menciptakan peluang demi peluang. Tapi semuanya mentah di tangan kiper Pafos, Neofytos Michail, yang tampil seperti tembok tak tertembus.
Tim asuhan Marcelino mungkin nyaman duduk di posisi ketiga LaLiga, tapi di benua biru mereka tampak kehilangan identitas. Bahkan trio berpengalaman Ayoze Pérez, Nicolas Pépé, dan Manor Solomon tak mampu membobol gawang tim debutan ini.
Dari Klub Gabungan ke Keajaiban Eropa
Melansir BBC pada hari ini, kisah Pafos memang luar biasa. Klub ini baru berdiri pada 2014, hasil merger dua tim lokal – AEK Kouklia dan AEP Paphos – yang bahkan sebelumnya sudah hasil penggabungan tim lain.
Awalnya mereka hanyalah tim divisi dua, hidup naik turun tanpa banyak sorotan.
Semuanya berubah ketika pengusaha Rusia-Inggris Roman Dubov, eks pemilik Portsmouth (2011), mengambil alih pada 2017. Dengan investasi serius dan visi jangka panjang, Pafos perlahan naik level.
Datangnya Juan Carlos Carcedo pada 2023 menjadi titik balik. Dalam dua musim, ia sudah menghadirkan dua trofi pertama klub: Piala Siprus 2024 dan gelar liga tahun lalu. Kini, mereka menulis bab baru di Liga Champions.
David Luiz, Sang Veteran di Garis Pertahanan
Rekrutan besar musim panas, David Luiz, tampil penuh selama 90 menit. Mantan bek Arsenal, Chelsea, dan Timnas Brasil itu menjadi jangkar di lini belakang, menahan setiap gelombang serangan Villarreal. Pengalaman dan karismanya memberi stabilitas luar biasa bagi tim muda ini.
Dan malam itu, di Stadion Alphamega di Limassol – markas sementara mereka karena stadion utama tak memenuhi standar UEFA – Pafos membuat sejarah. Klub kecil dari Siprus menumbangkan raksasa Spanyol.
Sebuah malam untuk dikenang. Sebuah keajaiban yang berbau biru dan putih.
Pafos sudah tiba di Eropa, dan mereka datang untuk bertahan.(maq)











