edisiana.com – Lando Norris keluar sebagai pemenang dalam Grand Prix F1 Hungaria yang dramatis, mengalahkan rekan setimnya Oscar Piastri dengan selisih hanya 0,6 detik. Namun kemenangan itu nyaris sirna ketika keduanya hampir mengalami insiden serius hanya dua putaran sebelum finis—insiden yang, jika terjadi, bisa saja memberikan podium kepada Fernando Alonso yang tampil brilian sepanjang balapan.
Alonso, yang memulai dengan strategi satu pit stop, melaju dengan sempurna tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Pembalap asal Asturias itu bersama Aston Martin mengeksekusi rencana mereka dengan cemerlang dan akhirnya mengamankan posisi ke-5.
Namun meskipun Alonso menjalani balapan nyaris tanpa cela, kecepatannya tetap tak cukup untuk menandingi para pemimpin lomba. Ia membutuhkan sedikit keajaiban—seperti pensiun ganda dari dua pembalap di depannya—untuk bisa naik ke podium. Tapi itu tidak terjadi.
Peluang sempat muncul ketika Piastri, dengan ban yang lebih segar, menekan Norris habis-habisan di lap-lap terakhir. Ketegangan memuncak ketika keduanya hampir bersenggolan.
Namun Norris tetap bertahan, mempertahankan posisinya hingga garis finis. Alonso, yang berada tepat di belakang drama itu, akhirnya harus puas di posisi ke-5.
Melansir Mundo Deportivo, kemenangan Norris sangat krusial dalam perebutan gelar juara dunia. Sebelumnya tertinggal 16 poin dari Piastri (yang bisa saja menjadi 23 jika Piastri menang), kini ia hanya terpaut 9 poin dengan 10 balapan tersisa. Kemenangan ini juga menegaskan dominasi McLaren atas George Russell (P3) dan Charles Leclerc (P4).
Leclerc sempat membuka harapan bagi Ferrari dengan meraih pole position, tetapi lagi-lagi strategi tim dan kecepatan balap mobil yang kurang kompetitif membuatnya tak berdaya.
Ia bahkan hampir menyebabkan insiden saat mempertahankan posisi dari Russell dengan manuver defensif yang terlalu agresif saat pengereman.
Drama demi drama mewarnai balapan ini, tetapi tidak cukup untuk mengubah nasib Alonso. Ia menjalankan balapan yang nyaris sempurna, namun hasil akhir tetap menunjukkan kerasnya realitas Formula 1—perfeksionisme saja tak selalu cukup tanpa dukungan kecepatan murni.(maq)











