Kisah Bintang Baru Chelsea, Joao Pedro: Dari Kelaparan hingga Jadi Andalan Chelsea (Bagian-3)

Pedro, pemain rekrutan baru yang membawa Chelsea ke final Piala Dunia Antarklub. Foto: via BBC

edisiana.com – Joao Pedro telah menempuh perjalanan luar biasa dari kehidupan yang penuh keterbatasan di Brasil hingga menjadi bintang baru Chelsea yang dibeli dengan nilai transfer £60 juta. Namun, di balik gemerlapnya sepak bola Eropa, ada kisah perjuangan pribadi yang membentuk karakter dan permainan sang penyerang.

Pada masa kecilnya, Joao Pedro hidup dalam kesulitan ekonomi yang ekstrem hingga terkadang tidak mampu membeli makanan. Kondisi ini turut memengaruhi perkembangan fisik dan kefasihannya dalam berbicara, terutama saat tubuhnya mulai mengalami perubahan.

Awalnya bermain sebagai gelandang bertahan seperti ayahnya, Chicao, Joao Pedro perlahan beralih ke posisi gelandang serang, lalu akhirnya menemukan tempatnya sebagai penyerang. Titik balik datang saat penyerang utama tim U-17 Fluminense promosi ke tim U-20, membuka jalan bagi Pedro untuk menunjukkan potensinya.

BACA JUGA:  Ramsey Gagal Penalti, Frankurt Jawara Europa 2022

“Saya melihat anak yang sangat fokus,” kata pelatih Fluminense, Oliveira. “Dia sangat efisien di depan gawang, setiap tembakannya tepat sasaran, dan dia menunjukkan semangat yang menular ke pemain lain.”

Salah satu momen paling berpengaruh dalam kariernya adalah ketika ia bisa menyaksikan langsung kerja keras Richarlison, bintang Tottenham yang juga jebolan Fluminense. Itu menjadi inspirasi bagi Pedro untuk terus mengasah kemampuannya, termasuk mengembangkan kaki lemahnya.

“Fluminense bukan hanya membantu saya secara finansial, tapi juga percaya pada saya sebagai pribadi dan pemain. Saya akan selalu berterima kasih,” kata Joao Pedro kepada Mail Sport.

BACA JUGA:  Inggris Tanpa Saka Saat Lawan Finlandia

Rasa terima kasih itu ditunjukkannya saat mencetak dua gol ke gawang mantan klubnya, Chelsea, di ajang Piala Dunia Antarklub. Meski hanya bergabung dengan The Blues enam hari sebelumnya, Pedro langsung menerapkan ‘Lei do Ex’—hukum tak tertulis yang lazim di Brasil: mencetak gol ke gawang mantan tim.

Namun, bukannya merayakan, Pedro justru mengangkat tangan sebagai isyarat minta maaf. Sebuah gestur tulus bagi klub yang telah mengubah hidupnya.

Setelah melewati masa-masa berat dan berkembang lewat Fluminense, Joao Pedro sempat membela Watford dan Brighton, sebelum akhirnya berlabuh di Chelsea. Kini, dengan energi luar biasa yang ia bawa ke lapangan, Pedro menjadi simbol harapan dan bukti nyata bahwa kerja keras mampu menaklukkan segala keterbatasan.(maq/habis)