edisiana.com – Ratusan pendukung Crystal Palace turun ke jalan di London Selatan pada Selasa dalam aksi protes terhadap keputusan UEFA yang menolak partisipasi klub mereka di Liga Europa. Dengan membawa spanduk, menyanyikan yel-yel, dan menyalakan kembang api merah yang memenuhi udara dengan asap tebal, para penggemar menyuarakan kekecewaan mereka.
UEFA menolak keikutsertaan Palace karena pelanggaran terhadap aturan kepemilikan multi-klub. Masalahnya terletak pada John Textor, pengusaha asal Amerika Serikat yang memiliki saham di Crystal Palace serta klub Prancis Olympique Lyon, yang juga lolos ke Liga Europa musim ini.
Meski Textor telah menjual 43 persen sahamnya di Palace dalam upaya untuk memperbaiki situasi, langkah tersebut dilakukan setelah batas waktu yang ditetapkan UEFA, yaitu 1 Maret, untuk membuktikan restrukturisasi kepemilikan.
Aksi para suporter tidak hanya terjadi di jalanan. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “UEFA. Bangkrut secara moral. Cabut keputusan itu sekarang juga,” dan bahkan mencoret-coret dinding luar stadion dengan tulisan “Mafia UEFA.”
Crystal Palace sendiri telah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) – badan hukum tertinggi dalam dunia olahraga – untuk menantang keputusan UEFA.
Satu-satunya pengalaman Palace di kompetisi Eropa sejauh ini adalah di Piala Intertoto 1998. Dengan demikian, partisipasi di Liga Konferensi Eropa pun dianggap menarik, apalagi jika mereka bisa berlaga di Liga Europa, yang membuka jalan menuju Liga Champions.
Namun karena regulasi UEFA menyatakan bahwa dalam kasus kepemilikan ganda, klub yang finis lebih tinggi di liga domestik akan diprioritaskan, Lyon – yang finis di peringkat keenam Ligue 1 – mengamankan tempat tersebut. Sementara Palace, yang hanya finis ke-12 di Premier League, kehilangan haknya.
Akibat keputusan ini, Nottingham Forest, yang sebelumnya dijadwalkan tampil di Liga Konferensi, kemungkinan besar akan menggantikan Palace di Liga Europa.
Mail Sport melaporkan bahwa pejabat Crystal Palace telah terbang ke markas besar UEFA bulan lalu untuk menyampaikan keberatan mereka secara langsung, namun sejauh ini keputusan belum berubah.(maq)








