edisiana.com – Pemain berdarah Indonesia, Tijjani Reijnders, yang mengungkap percakapan pribadinya dengan Pep Guardiola mengenai alasan di balik keputusan meninggalkan Manchester City.
Menurut Reijnders, Guardiola menjelaskan bahwa keputusannya bukan dipicu oleh konflik internal ataupun hasil buruk tim. Sang pelatih merasa siklusnya bersama City telah mencapai titik akhir setelah satu dekade penuh kesuksesan di Etihad Stadium.
“Pep mengatakan kepada kami bahwa tidak ada alasan khusus. Dia hanya merasa waktunya sudah tiba,” ungkap Reijnders dinukil dari MD pada hari ini.
Sang pelatih menegaskan bahwa keputusannya berasal dari perasaan pribadi bahwa sebuah era memang harus berakhir.
Guardiola sendiri dalam pidato perpisahannya menyatakan bahwa tidak ada yang abadi dan ia merasa sudah saatnya memberikan ruang bagi babak baru, baik untuk dirinya maupun klub.
Setelah sepuluh tahun membangun salah satu dinasti terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris, pria asal Catalunya itu memilih menutup kisahnya di Manchester dengan caranya sendiri.
Bagi Reijnders, keputusan tersebut tetap terasa emosional. Gelandang yang menjadi salah satu wajah baru proyek City itu mengakui bahwa Guardiola merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan para pemain.
Meski demikian, ia memahami bahwa tekanan dan tuntutan di level tertinggi selama bertahun-tahun membuat sang pelatih membutuhkan perubahan.
Laporan-laporan dari Inggris menyebut Guardiola juga mengakui energinya tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Setelah hampir dua dekade tanpa henti melatih di level elite bersama FC Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City, ia merasa perlu mengambil jeda dari dunia kepelatihan.
Di Etihad, kepergian Guardiola menandai akhir dari era emas yang menghasilkan 20 trofi utama dan mengubah City menjadi kekuatan dominan sepak bola Eropa.
Namun seperti yang disampaikan sang pelatih kepada para pemainnya, termasuk Reijnders, keputusan itu bukan soal trofi atau hasil pertandingan.(maq)











