Maroko Petik Hasil dari Strategi Diaspora, Turunkan 11 Pemain Kelahiran Luar Negeri

Hakimi dan Díaz merayakan kemenangan final Piala Afrika dan keduanya kelahiran dari Spanyol.Foto: via ESPN

edisiana.com – Ada yang menarik dalam laga Maroko melawan Belanda yang berlangsung Selasa pagi (08.00 WIB). Tim berjuluk Atlas Lions itu mencatatkan sejarah dengan menurunkan sebelas pemain inti yang seluruhnya lahir di luar Maroko. Catatan tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Piala Dunia.

Fenomena itu bukan terjadi secara kebetulan. Lebih dari satu dekade lalu, Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko mulai menjalankan strategi besar untuk merekrut pemain berdarah Maroko yang memiliki kewarganegaraan ganda dan berkembang di kompetisi Eropa.

Pemandu bakat disebar ke sejumlah negara seperti Prancis, Belgia, Spanyol, dan Belanda. Tugas mereka bukan sekadar memantau talenta muda, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan para pemain beserta keluarganya sejak dini, bahkan sebelum mereka memasuki level tim nasional senior.

BACA JUGA:  Manchester United Menang Lagi, Euy...

Mantan Direktur Teknik Maroko, Pim Verbeek, pernah menjelaskan bahwa proses perekrutan tidak hanya berfokus pada aspek sepak bola. Menurutnya, keluarga memiliki pengaruh besar dalam menentukan pilihan seorang pemain untuk membela negara.

Strategi tersebut terbukti membuahkan hasil. Pada Piala Dunia 2018, lima pemain dalam skuad Maroko lahir di Belanda. Empat tahun kemudian, ketika Maroko mencetak sejarah sebagai negara Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia, sebanyak 14 dari 26 pemain dalam skuad merupakan kelahiran luar negeri.

BACA JUGA:  Si Messi Ajaib Cetak 800 Gol

Keberhasilan itu tidak lepas dari konsistensi federasi dalam menjaga komunikasi dengan para pemain diaspora. Mereka rutin menyampaikan visi jangka panjang tim nasional sekaligus meyakinkan para pemain bahwa mereka akan menjadi bagian penting dalam proyek sepak bola Maroko.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Hakim Ziyech. Gelandang yang lahir di Belanda itu memutuskan membela Maroko meski sempat menjadi sorotan publik Negeri Kincir Angin.

BACA JUGA:  Lampard Serahkan kepada Alli untuk Memutuskan Pindah

“Saya selalu merasa sebagai orang Maroko. Anda memilih dengan hati Anda,” ujar Ziyech dinukil dari BBC pada hari ini.(maq)