edisiana.com – Anfield, yang biasanya menjadi benteng angker bagi para tamu, justru berubah menjadi arena penderitaan bagi Liverpool.
Dalam laga Liga Champions Kamis dini hari, PSV Eindhoven datang tanpa rasa gentar dan pulang dengan kemenangan gemilang 1–4, meninggalkan The Reds dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Pertandingan bahkan belum benar-benar panas ketika bencana pertama menimpa tuan rumah. Baru enam menit berjalan, Virgil van Dijk—kapten yang biasanya menjadi simbol ketenangan—mengangkat tangan terlalu tinggi saat mengklaim pelanggaran.
VAR tak berbelas kasihan. Penalti. Ivan Perisic maju dan mengeksekusi dengan dingin, membungkam Anfield.
Liverpool sempat memberikan secercah harapan. Sepuluh menit berselang, Dominic Szoboszlai memanfaatkan bola muntah dari tembakan Cody Gakpo yang ditepis Matej Kovár.
Gelandang Hungaria itu menyambar bola dan membuat skor kembali imbang. Anfield hidup, Liverpool menekan, dan Gakpo nyaris membalikkan keadaan, sementara sundulan van Dijk hanya menghantam mistar.
Namun PSV tidak datang untuk bermain aman. Mereka datang untuk melukai.
Mauro Junior mengirimkan umpan cerdas yang mengiris pertahanan Liverpool, dan Guus Til—tak terjaga—menyelesaikannya dengan ketenangan seorang algojo. 1–2. Sunyi kembali menyelimuti Anfield.
Babak kedua berubah menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Tendangan Ricardo Pepi memaksa Alisson memberikan bola muntah, dan pemain pengganti Couhaib Driouech menyambar dengan ganas. Para pendukung PSV menari di tribun; The Reds hanya bisa terdiam.
Belum cukup sampai di situ. Driouech kembali menghukum tuan rumah di masa tambahan waktu dengan tembakan rendah terukur yang menghujam sudut gawang.
Gol itu menegaskan dominasi total PSV dan menjadi penanda kemenangan pertama mereka atas klub Inggris sejak menumbangkan Tottenham pada 2008.
Hasil ini menukil BBC, mengangkat PSV ke posisi ke-15 klasemen, sementara Liverpool terjun bebas ke peringkat ke-13—situasi yang mustahil diterima oleh publik Anfield.
Tekanan semakin besar, alarm berbunyi keras, dan posisi delapan besar kini terasa semakin jauh bagi pasukan Jurgen Klopp.
Anfield bergemuruh, tapi kali ini bukan karena kemenangan—melainkan kegelisahan.(maq)









