edisiana.com – Di Metropolitano, tempat yang seolah menjadi wilayah terlarang bagi Inter Milan, kutukan kembali menunjukkan taringnya.
Harapan Nerazzurri untuk mempertahankan rekor sempurna di Liga Champions buyar setelah Atlético Madrid memetik kemenangan dramatis 2-1.
Dengan disegel oleh sundulan José María Giménez di masa injury time—sebuah pukulan telak yang membuat Inter pulang dengan tangan hampa.
Pertandingan berlangsung hidup sejak peluit pertama. Inter bahkan mengirim alarm dini pada menit ketiga. Federico Dimarco menyambar bola di udara dan melepaskan tembakan yang hanya melintas beberapa inci di samping tiang.
Tapi Atlético merespons dengan gaya mereka: intens, agresif, dan penuh determinasi.
Gol pembuka tiba enam menit kemudian lewat aksi kacau khas Metropolitano. Hakan Çalhanoglu kehilangan bola di area berbahaya, Giuliano Simeone mengirim umpan ke tiang jauh.
Dan bola liar yang memantul dari Carlos Augusto serta Álex Baena akhirnya jatuh ke kaki Julián Alvarez. Sang striker tanpa ampun mengirim bola ke gawang.
Wasit François Letexier sempat menganulirnya karena dugaan handball Baena, namun VAR turun tangan dan mengoreksi. Stadion pun meledak.
Inter mencoba membalas. Çalhanoglu menebar ancaman lewat tembakan jarak jauh yang dipaksa diselamatkan Juan Musso.
Sementara di sisi lain Alvarez kembali menguji Yann Sommer dengan tendangan keras dari luar kotak penalti. Duel tetap terbuka hingga jeda, dengan kedua tim saling bergantian menekan.
Babak kedua menjadi panggung Inter untuk bangkit. Mereka langsung menancap gas. Nicolò Barella bahkan nyaris membawa Nerazzurri unggul setelah tembakannya menghantam mistar gawang. Dan akhirnya, tekanan itu berbuah manis sembilan menit setelah restart.
Piotr Zielinski memaksimalkan umpan Ange-Yoan Bonny dengan sepakan akurat ke sudut kanan bawah, menaklukkan Musso dan menghidupkan kembali asa Inter.
Tetapi Metropolitano punya kisahnya sendiri—dan bagi Inter, kisah itu hampir selalu pahit.
Ketika pertandingan tampak menuju hasil imbang, Atlético menyerang sekali lagi lewat senjata mematikan mereka: bola mati.
Sepak pojok Antoine Griezmann melayang sempurna, dan Giménez—seperti pemain yang diangkat oleh atmosfer stadion—meloncat paling tinggi untuk menyundul bola ke pojok bawah gawang.
Gol pertamanya musim ini, tetapi mungkin salah satu yang paling menentukan.
Melansir ESPN, Atlético meraih kemenangan ketiga mereka di kompetisi ini dan melompat ke posisi ke-12 klasemen, sementara Inter harus menerima kekalahan perdana musim ini setelah empat kemenangan beruntun.
Kutukan Metropolitano? Masih hidup, masih menghantui, dan malam ini kembali merenggut korban.(maq)










