edisiana.com – Fluminense memastikan tempat di babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025, menyusul hasil imbang tanpa gol melawan Mamelodi Sundowns dalam pertandingan penutup Grup F yang digelar di Stadion Hard Rock, Miami, pada Rabu, 25 Juni 2025 waktu setempat.
Dengan hasil tersebut, Fluminense finis di posisi kedua grup di bawah Borussia Dortmund dan melengkapi daftar empat klub asal Brasil yang melaju ke fase gugur, bersama Flamengo, Palmeiras, dan Botafogo.
Mereka akan menghadapi runner-up Grup E—River Plate, Inter Milan, atau Monterrey—pada babak 16 besar yang dijadwalkan berlangsung Senin depan di Charlotte.
Laga Ketat di Miami
Pertandingan berlangsung dalam suhu tinggi dan stadion yang tidak sepenuhnya terisi, dengan hanya 14.312 penonton dari kapasitas lebih dari 65.000. Meski demikian, atmosfer tetap semarak berkat perpaduan nyanyian suporter Brasil dan dentuman drum dari pendukung Sundowns.
Sundowns tampil dominan di babak pertama dengan mengandalkan serangan dari sisi sayap. Peluang emas dari Lucas Ribeiro dan Tashreeq Matthews nyaris membawa tim asal Afrika Selatan unggul lebih awal, namun upaya mereka digagalkan oleh kiper gaek Fluminense, Fabio, yang kini berusia 44 tahun.
Fluminense mulai menemukan ritme permainan setelah jeda pendinginan sekitar 30 menit. Peluang terbaik mereka datang pada menit ke-57 saat tendangan voli German Cano mengenai tiang gawang.
Reaksi Pelatih dan Pemain
Pelatih Fluminense, Renato Gaucho, mengapresiasi kerja keras timnya dan menekankan pentingnya hasil ketimbang penampilan.
“Skuad ini patut diberi selamat, begitu pula para penggemar,” ujar Renato dinukil dari ESPN pada hari ini.
“Kami mencapai apa yang ingin kami capai di sini: lolos dari fase grup. Kami tahu akan menghadapi banyak kesulitan, tapi terkadang lebih baik menderita dan lolos, daripada bermain bagus tapi tersingkir,” imbuhnya.
Di sisi lain, Mamelodi Sundowns harus puas finis di peringkat ketiga Grup F dengan empat poin dan gagal melaju ke babak berikutnya. Kapten tim, Ronwen Williams, menyoroti kurangnya efektivitas di lini depan sebagai penyebab kegagalan timnya.
“Bagi tim Afrika, semuanya bergantung pada efisiensi di depan gawang,” katanya.(maq)










