edisiana.com – Hujan turun deras di Tangier. Tapi yang benar-benar membasahi lapangan adalah amukan Senegal. Dan di tengah badai itu, satu nama bersinar terang: Nicolas Jackson.
Striker Chelsea tersebut menjadi tokoh utama kemenangan telak 3-0 Senegal atas Botswana pada laga pembuka Grup D Piala Afrika 2025. Juara Afrika 2021 langsung mengirim pesan keras: mereka datang bukan untuk pemanasan.
Sejak menit awal, Botswana terkurung. Gelombang serangan datang tanpa henti. Sadio Mané, Iliman Ndiaye, semuanya mencoba menembus pertahanan Zebras.
Hanya satu yang berdiri kokoh: Goitseone Phoko. Kiper Botswana itu tampil heroik di 30 menit pertama, menggagalkan peluang demi peluang.
Namun tembok itu akhirnya runtuh.
Lima menit jelang turun minum, Jackson muncul tanpa penjagaan. Umpan silang presisi dari Ismail Jakobs disambar dingin di kotak penalti. Gol. Senegal memimpin. Tak terbendung.
Babak kedua? Ceritanya sama. Dominasi total. Menit ke-58, Jackson kembali menghukum Botswana. Penyelesaian kelas atas dari penyerang Chelsea yang kini dipinjamkan ke Bayern Munich. Tanpa ampun.
Pesta ditutup oleh Cherif Ndiaye, yang masuk dari bangku cadangan dan mencetak gol ketiga di menit-menit akhir waktu normal. Knockout sempurna.
Botswana? Nyaris tak pernah mengancam. Statistik pahit mereka di Piala Afrika berlanjut: belum pernah menang. Dan ujian berikutnya tak kalah berat—melawan Benin di Rabat, Sabtu nanti.
Sementara itu, menukil BBC, Senegal melesat ke puncak Grup D, unggul selisih gol atas DR Congo. Kedua tim akan saling berhadapan di Tangier pada hari yang sama.
Pesannya jelas. Senegal panas. Jackson tajam. Afrika, bersiaplah.(maq)









