edisiana.com – Burnley terperosok ke posisi 17 klasemen setelah menjadi korban terbaru kebangkitan Chelsea. Di Turf Moor, skuad Enzo Maresca meraih tiga poin dengan kemenangan meyakinkan 0-2, yang terasa seperti pernyataan kuasa dari tim tamu.
Padahal, awal laga sempat berpihak pada tuan rumah. Burnley tampil agresif, menekan tinggi, menguasai bola, bahkan beberapa kali menggempur kotak penalti Chelsea.
Namun tembok pertahanan “The Blues”—dengan ketenangan absolut di depan gawang Sanchez—membuat segala upaya itu mentah sebelum sempat menjadi ancaman nyata.
Setelah 30 menit ditekan, Chelsea akhirnya keluar dari cengkeraman. Mesin serangan mulai berputar, ritme dibangun, dan pada menit ke-37 muncullah momen pembeda.
Jamie Gittens mengirim terobosan tajam, dan Pedro Neto melompat paling tinggi, menyundul bola ke pojok kiri bawah. Gol klinis, gol elegan, gol yang mengubah atmosfer. Itu menjadi satu-satunya gol pada babak pertama.
Usai jeda, Chelsea tampil seperti tim besar yang lapar. Serangan datang dari segala arah—sayap, tengah, kombinasi cepat—membuat Burnley terpaksa mundur dan memperkuat barikade. Tapi pertahanan tuan rumah akhirnya runtuh pada menit ke-88.
Dari transisi cepat khas Maresca, Marc Guiu melesat membawa bola hingga jantung pertahanan Burnley sebelum mengirim umpan matang ke Fernández.
Tanpa basa-basi, sang gelandang melepaskan tembakan mendatar ke sudut kiri bawah. Sebuah penyelesaian yang membunuh pertandingan.
Kemenangan ini membuat Chelsea naik ke posisi kedua Liga Premier, menempel ketat Arsenal di puncak.
Sementara Burnley, yang sempat berharap bangkit, harus puas bertahan di peringkat ke-17—semakin dekat ke zona merah.(maq)











