edisiana.com – Tekanan terhadap Liam Rosenior kian menguat. Situasi itu membuka peluang Cesc Fabregas dilirik kembali oleh mantan klubnya, Chelsea.
Performa The Blues yang terus memburuk menjelang akhir musim membuat manajemen gusar. Kekalahan telak dari Brighton & Hove Albion menjadi pukulan terbaru. Ambisi finis di zona Liga Champions UEFA pun terancam buyar.
Situasi makin pelik setelah Chelsea menelan lima kekalahan beruntun di liga tanpa mampu mencetak gol. Catatan itu menjadi yang terburuk sejak 1912. Tak heran, wacana pergantian pelatih mulai menguat.
Nama Fabregas pun mencuat. Desakan agar Chelsea menjajaki peluang merekrutnya semakin intens, seiring tekanan yang terus membayangi Rosenior.
Di sisi lain, Como 1907 tak tinggal diam.
Presiden klub, Mirwan Suwarso, menegaskan pentingnya peran Fabregas.
“Tapi kami akan bodoh jika tidak berpikir suatu hari dia bisa pergi ke Arsenal, FC Barcelona, atau Chelsea,” ujarnya dikutip dari MetroSports pada hari ini.
Nada optimistis juga disampaikan CEO Como, Carlalberto Ludi. Ia yakin Fabregas masih akan bertahan lama di klub.
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Fabregas sukses besar sejak menangani Como. Ia membawa klub tersebut promosi dari Serie B pada musim panas 2024.
Tak berhenti di situ, Como langsung tampil mengejutkan di Serie A. Mereka finis di posisi kesembilan musim lalu—pencapaian terbaik sejak 1987.
Musim ini, performa Como bahkan lebih impresif. Dengan lima laga tersisa, mereka bertengger di posisi kelima klasemen dan berpeluang mencetak sejarah.
Jika mampu menembus Liga Champions, itu akan menjadi pencapaian luar biasa bagi Fabregas di musim keduanya sebagai pelatih kepala.
Namun, sukses tersebut juga membawa konsekuensi. Nama Fabregas kini masuk radar klub-klub besar Eropa. Selain Chelsea, Barcelona juga disebut memantau situasinya.
Como boleh yakin. Tapi godaan dari klub-klub elite jelas bukan perkara mudah untuk diabaikan.(maq)











