Gündogan: Rival Arsenal Mirip dengan Gaya City

Gündogan diprediksi akan menjadi starter dalam menjamu Arsenal di Etihad. Foto: via BBC

edisiana.com – Persaingan dalam dunia sepak bola dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tapi bagi Ilkay Gundogan, persaingan tersebut cenderung muncul justru dari orang yang sudah dikenalnya.

Selama lima tahun di Liga Premier, setiap gerakan olahraga Gundogan dibayangi oleh Jurgen Klopp. Mantan manajernya selama tahun-tahun pembentukannya di Borussia Dortmund.

Kini, saat ia memasuki masa keduanya di City, Arsenal dan Mikel Arteta, yang pernah menjadi asisten Guardiola di Etihad, lah yang memberikan tantangan.

City mengalahkan Arsenal dengan selisih dua poin pada musim lalu. Lantas memenangkan gelar liga keempat berturut-turut. Sayang gagal memenangkan satu pun pertandingan dengan rival mereka, bermain imbang di kandang dan kalah di London.

Pada hari Minggu besok, mereka bertemu di Manchester untuk pertama kalinya musim ini.”Ini sedikit berbeda dengan rivalitas Liverpool,” ujar Gundogan dinukil dari Daily Mail pada Sabtu ini.

BACA JUGA:  Juara Liga Norwegia Sikat Lazio 2-0

“Karena cara tim bermain. Arsenal jauh lebih mirip dengan cara bermain kami dibandingkan Liverpool asuhan Klopp,” tambahnya.

Menurut dia, Mikel sangat mengenal klub City, para pemain, dan manajernya. Ia pernah bekerja dengan Pep dan Pep memiliki pengaruh yang besar terhadap Mikel.

“Begitu pula dengan saya jika saya menjadi pelatih. Pep akan memiliki pengaruh yang besar terhadap cara saya ingin tim saya bermain,” sambungnya.

“Itulah yang membedakan Liverpool asuhan Klopp. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih mudah, tetapi dengan persaingan baru ini, kedua klub saling mengenal dengan baik dan akan saling siap,” tutur dia.

BACA JUGA:  De Jong Pilih Klub Mana? City atau United

Gundogan punya sedikit sejarah pribadi dengan Arsenal. Berasal dari Turki dan keluarganya pendukung Galatasaray.

Dan salah satu kenangan paling awal tentang sepak bola adalah saat duduk di lantai apartemen keluarga pada tahun 2000, menyaksikan timnya mengalahkan Arsenal asuhan Arsene Wenger melalui adu penalti di final Piala UEFA. Saat itu usianya sembilan tahun.

‘Itu merupakan momen yang sangat penting bagi kami sebagai sebuah keluarga dan bagi saya sebagai seorang anak tentunya,” ucap Gundogan sambil tersenyum.

Ia melanjutkan, bagi Turki dan sepak bola Turki, pertandingan itu sangat penting. Ada lima belas atau dua puluh orang di ruang tamu yang menonton pertandingan. Ada orang-orang yang menangis dan berpelukan ketika penalti terakhir terjadi.

BACA JUGA:  Tokoh Bola Dukung Yamal Dapat Ballon d'Or

“Saya kira itu (Gica) Popescu. Itu sangat berarti bagi saya sebagai anak muda, bermain di jalanan dan di tim lokal kecil, tumbuh besar dan bermimpi menjadi pemain profesional suatu hari nanti. Dan Galatasaray juga menjadi tim saya. Jadi ya, itu luar biasa,” pungkasnya.(maq)