edisiana.com – Ibrahim Díaz meraih Sepatu Emas, tetapi malam itu terasa kosong dan menyakitkan. Maroko gagal mengangkat trofi Piala Afrika, dan segalanya runtuh dalam satu momen: penalti kontroversial di menit ke-8 tambahan waktu yang berakhir di tangan Édouard Mendy.
Tekanan? Maksimal. Kekacauan? Total.
VAR memutuskan El Hadji Malick Diouf melanggar Díaz di kotak penalti. Keputusan itu langsung memicu keributan besar.
Pemain Senegal mengamuk, memprotes keras, bahkan meninggalkan lapangan atas instruksi pelatih Pape Thiaw. Stadion terhenti. Waktu membeku.
Penalti belum juga diambil.Menit demi menit berlalu. 17 menit Díaz menunggu.
Dan ketika akhirnya titik putih siap dieksekusi, tekanan itu terasa nyata. Díaz memilih panenka. Berani. Berisiko. Namun bola justru melayang terlalu mudah dan ditangkap Mendy. Senegal selamat. Maroko hancur.
Ironisnya, secara individu Díaz tetap bersinar. Lima gol mengantarkannya menjadi top skor turnamen. Sepatu Emas di tangan, tapi trofi lepas dari genggaman.
Pelatih Maroko, Walid Regragui, tak menutup kekecewaannya.
“Dia menunggu terlalu lama sebelum menendang penalti, dan itu jelas membuatnya gelisah,” ujar Regragui dikutip dari ESPN pada Senin ini.
“Tapi kami tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Itulah pilihannya. Sekarang kami harus menatap ke depan.”
Sepak bola memang kejam. Satu malam, satu penalti, satu keputusan. Díaz menang sebagai individu—namun kalah sebagai juara.(maq)










