Senegal Juara Afrika Dalam Laga Paling Panas Afcon

Pemain Senegal dan Maroko sempat ribut. Foto: via ESPN

edisiana.com – Piala Afrika kembali menunjukkan wajah liarnya. Tangis, amarah, keributan, dan akhirnya—sejarah. Senegal adalah juara, tapi jalan menuju trofi AFCON kedua mereka dipenuhi kontroversi yang akan lama dibicarakan.

Segalanya hampir runtuh di waktu tambahan.Ketika wasit menunjuk titik putih untuk Maroko, para pemain Senegal merajuk dan meninggalkan lapangan. Protes total. Final terhenti. Stadion membara. Pertandingan tertunda 14 menit yang terasa seperti satu jam penuh ketegangan.

Di tengah kekacauan itu, Sadio Mané muncul sebagai pemimpin sejati. Bintang Bayern tersebut masuk ke ruang ganti, membujuk, menyemangati, dan menarik kembali rekan-rekannya ke lapangan. Senegal kembali. Final dilanjutkan. Drama belum selesai.

BACA JUGA:  Ancelotti Buang Lima Bintangnya

Momen penentuan tiba.Brahim Díaz maju sebagai algojo Maroko. Tapi di depannya berdiri tembok bernama Édouard Mendy. Penyelamatan spektakuler! Penalti gagal! Stadion meledak—begitu juga emosi di mana-mana.

Para pendukung Senegal mencoba menyerbu lapangan, sementara keributan bahkan pecah di tribun pers, dengan jurnalis saling adu fisik. Sepak bola Afrika dalam kondisi mendidih.

Dan di tengah kekacauan itu, Senegal menemukan ketenangan. Mereka mencetak gol di babak perpanjangan waktu dan mengunci kemenangan 1-0. Peluit akhir berbunyi. Senegal juara Afrika—lagi. Trofi AFCON kedua, lima tahun setelah kejayaan 2021.

BACA JUGA:  Palmer Sabet Gelar Pemain Terbaik Inggris

Namun pesta itu tak dirayakan semua pihak.Kubu Maroko murka. Pelatih Walid Regragui melontarkan kritik keras, membela Brahim Díaz dan mengecam keputusan yang ia anggap mencederai sepak bola Afrika.

“Terlalu banyak waktu berlalu sebelum Brahim mengambil penalti. Itu merusak konsentrasinya,” ujar Regragui kepada ESPN.

“Pertandingan yang kami mainkan memalukan bagi Afrika,” tambahnya.

BACA JUGA:  Prediksi: Skotlandia Tersingkir dari Euro

Kata-kata tajam untuk malam yang sudah panas.Senegal menang. Maroko marah. Afrika berdebat. Final ini bukan sekadar pertandingan—ini adalah AFCON dalam bentuk paling brutal dan paling jujurnya.(maq)