edisiana.com – Pelatih Benfica, Jose Mourinho, melontarkan kritik tajam terhadap selebrasi Vinicius Jr usai gol indah yang dicetak penyerang Real Madrid itu di Stadion Da Luz, Lisbon.
Menurut Mourinho, gol sekelas itu seharusnya dirayakan dengan elegan, bukan dengan gestur yang memancing emosi pendukung tuan rumah.
Gol tersebut tercipta pada menit ke-50.
Vinicius melepaskan tembakan melengkung penuh presisi yang meluncur mulus melewati jangkauan kiper Anatoliy Trubin. Bola bersarang di sudut gawang, membuat stadion seketika terdiam. Vinicius tersenyum, sementara Madrid unggul.
Namun, momen magis itu berubah panas ketika Vinicius melakukan selebrasi yang dianggap mengejek suporter Benfica. Aksi tersebut langsung memantik reaksi keras dari tribun.
Situasi makin memanas saat Vinicius berlari ke arah wasit Francois Letexier sambil memberi isyarat ke arah pemain lawan.
Mourinho pun tak tinggal diam. Pelatih yang pernah menangani Real Madrid itu menyayangkan sikap sang pemain.
“Vinicius mencetak gol yang fantastis. Mengapa dia tidak merayakannya seperti Eusebio, Pelé, atau Di Stéfano?” kata Mourinho, dikutip dari ESPN pada hari ini.
Bagi Mourinho, gol indah layak dirayakan dengan cara yang berkelas, sebagaimana dilakukan para legenda sepak bola dunia.
Tak hanya soal selebrasi, Mourinho juga ditanya mengenai kartu merah yang diterimanya dalam pertandingan tersebut. Dengan nada khasnya, ia mengaku diusir karena menyampaikan sesuatu yang menurutnya jelas.
“Saya diusir karena mengatakan sesuatu yang sangat jelas,” ujarnya.
Ia bahkan menyindir kepemimpinan wasit dengan menyebut adanya perlakuan berbeda terhadap beberapa pemain.
“Wasit memiliki selembar kertas yang bertuliskan, ‘Tchouaméni, Carreras, dan Huijsen tidak bisa menerima kartu kuning,” imbuhnya.
“Dia tidak ingin memberi kartu kuning kepada Carreras atau Tchouaméni. Saya memberi tahu wasit, karena saya telah menghabiskan 1.400 pertandingan di bangku cadangan.”
Mourinho menutup pernyataannya dengan kalimat penuh makna: “Dia tahu betul siapa yang bisa dia beri kartu kuning dan siapa yang tidak. Kami tahu bagaimana aturan mainnya.”
Pertandingan pun tak hanya menyisakan cerita tentang gol indah Vinicius, tetapi juga drama panas di pinggir lapangan—sebuah malam di Lisbon yang sulit dilupakan.(maq)









