edisiana.com – Anfield yang biasanya menjadi benteng tak tertembus berubah menjadi panggung kekecewaan. Liverpool, sang raksasa, tersandung di hadapan Burnley—klub papan bawah—dan harus puas dengan hasil imbang 1-1 yang terasa seperti kekalahan.
The Reds mendominasi sejak menit pertama di depan publiknya sendiri. Bola dikuasai, tempo dikendalikan, tetapi tembok pertahanan Burnley menolak runtuh. Penantian panjang itu baru berakhir di menit ke-42.
Dua nama menjadi sorotan: Florian Wirtz dan rekrutan musim panas Hugo Ekitike.
Sentuhan Ekitike mematikan umpan panjang Virgil van Dijk, lalu tekadnya merebut kembali bola di dekat garis gawang memicu momen krusial. Curtis Jones mengirimkan umpan balik, dan Wirtz menghantam bola dengan keras—gol yang meledakkan Anfield.
Liverpool nyaris menggandakan keunggulan. Kesalahan ceroboh Florentino Luis yang menjatuhkan Cody Gakpo hampir berbuah petaka, tetapi sepakan Szoboszlai hanya mencium mistar gawang. Dewi fortuna berpaling.
Dan seperti hukum sepak bola yang kejam, Burnley menghukum. Marcus Edwards, dengan satu-satunya tembakan tepat sasaran tim tamu, menyamakan kedudukan di menit ke-65. Satu tembakan, satu gol.
Efisiensi yang membungkam stadion.
Liverpool mengamuk setelahnya. Ekitike, Gakpo, dan Wirtz memaksa Martin Dúbravka bekerja keras.
Gempuran bertubi-tubi di babak kedua bahkan membuat Bashir Humphreys dua kali menjadi pahlawan dadakan, menyapu bola di garis gawang—salah satunya berkat kelincahan kaki Wirtz yang nyaris membuka celah.
Ekitike sempat menjebol gawang dari situasi sepak pojok, tetapi bendera offside mengakhiri selebrasi terlalu cepat.
Rekor tak terkalahkan dalam 12 laga terakhir terasa hampa bagi Arne Slot. Hasil ini, menurut ESPN, membuat Liverpool tetap di posisi kedua, kini tertinggal lima poin dari Manchester City—yang justru bangkit usai derby.
Anfield tak lagi menakutkan malam itu. Dan bagi Liverpool, ini adalah peringatan keras bahwa dominasi tanpa ketajaman hanyalah ilusi.(maq)










