edisiana.com – Erling Haaland kembali menjadi sorotan menjelang final Piala FA antara Manchester City dan Chelsea di Wembley Stadium, Sabtu malam ini. Bukan hanya karena statusnya sebagai mesin gol utama City, tetapi juga karena satu statistik yang mulai menghantui sang striker Norwegia: mandul di laga final.
Dalam beberapa musim terakhir, Haaland menjelma menjadi salah satu penyerang paling mematikan di Eropa. Namun anehnya, ketajamannya seolah menghilang ketika lampu panggung terbesar menyala.
Melansir Sport Mole menyebutkan Haaland belum mampu mencetak gol dalam 15 pertandingan semifinal dan final bersama City di lima kompetisi berbeda.
Catatan tersebut mencakup sembilan partai final: tiga final Piala FA, tiga Community Shield, serta masing-masing satu final Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala EFL.
Dari seluruh laga itu, Haaland telah melepaskan 15 tembakan, tetapi belum satu pun berhasil menembus gawang lawan.
Statistik itu jelas kontras dengan reputasinya sebagai predator kotak penalti. Sebab di kompetisi Piala FA sendiri, Haaland sebenarnya memiliki rekor yang sangat impresif.
Ia telah mengoleksi 12 gol hanya dalam 13 penampilan bersama City.
Yang lebih mencolok, 11 dari 12 gol tersebut lahir melalui rangkaian hat-trick mematikan.
Salah satu penampilan paling spektakuler terjadi saat City menggulung Liverpool dengan skor 4-0 di perempat final, ketika Haaland mencetak tiga gol sekaligus.
Kini, Wembley menghadirkan kesempatan lain bagi Haaland untuk mematahkan kutukan yang terus membayangi.
Di hadapan Chelsea dan dalam atmosfer final yang selalu menuntut kesempurnaan, sang bomber Norwegia memiliki satu misi besar: membuktikan bahwa dirinya bukan hanya mesin gol untuk laga biasa, tetapi juga penentu di malam paling penting.(maq)








