edisiana.com – Di stadion Diego Armando Maradona, laga yang disebut-sebut sebagai “final” perebutan tiket Liga Champions berakhir tanpa pemenang. Napoli dan Roma berbagi angka setelah bermain imbang 2-2 dalam duel intens, emosional, dan penuh momen dramatis.
Roma memukul lebih dulu. Keputusan Gasperini menurunkan Bryan Zaragoza sebagai starter untuk pertama kalinya—menggantikan Soulé—langsung berbuah. Winger muda itu mengirim umpan silang rendah nan presisi ke jantung pertahanan Napoli.
Donyell Malen datang menyambar dan menaklukkan Vanja Milinkovic-Savic. Efektif, klinis, tanpa ampun.
Sang juara bertahan sempat goyah. Malen bahkan nyaris menggandakan keunggulan lewat aksi solo dari tengah lapangan, sebuah lari yang mengingatkan pada Ronaldo Nazario di masa jayanya. Stadion terdiam sesaat, namun penyelesaiannya meleset tipis.
Tempo kemudian menurun hingga menit ke-40, ketika Leonardo Spinazzola “mengingat” mantan klubnya.
Dari jarak jauh ia melepaskan tembakan keras yang membentur Pisilli dan mengecoh kiper. Gol yang lahir dari determinasi—dan sedikit keberuntungan.
Babak kedua berubah menjadi adu keberanian. Wesley melakukan penetrasi luar biasa dari sisi kiri, memaksa Amir Rrahmani melakukan pelanggaran di dalam kotak penalti.
Tanpa ragu, Malen mengambil tanggung jawab. Milinkovic-Savic menebak arah dengan tepat, tetapi eksekusinya terlalu akurat. 1-2.
Napoli bereaksi seperti tim besar. Pasukan Antonio Conte meningkatkan tekanan, mendorong garis pertahanan lebih tinggi, membanjiri area Roma.
Hasilnya datang dari rekrutan musim dingin mereka: Alisson mencetak gol pertamanya di Serie A, menyambut bola dengan ketenangan yang mencerminkan pemain yang tahu momen besar.
Skor 2-2 bertahan hingga akhir. Sebuah hasil yang menjaga kedua tim tetap dalam jalur perebutan gelar. Namun menurut MD, menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang dan margin kesalahan semakin tipis.
Di Maradona, tidak ada pemenang. Tapi ada pernyataan: Napoli dan Roma belum selesai berbicara dalam perburuan musim ini.(maq)










