Bola, Seleb  

Dua Tahun Mbappé di Real Madrid: Dari Debut Impian hingga Penantian Trofi Besar

Mbappé melambaikan tangan kepada fans Madrid saat diperkenalkan di Stadion Barnebeu. Foto: via ESPN

edisiana.com — Jumat, 14 Agustus 2026 menjadi tanggal yang spesial sekaligus penuh ironi bagi Kylian Mbappé dan Real Madrid. Tepat dua tahun lalu, penyerang Prancis itu menjalani debut resminya bersama Los Blancos. Debut yang tidak bisa lebih sempurna: mencetak gol dan langsung mengangkat trofi.

Malam itu, Real Madrid menghadapi Atalanta pada final Piala Super UEFA di Stadion Narodowy, Warsawa. Di bawah arahan Carlo Ancelotti, Madrid menang 2-0 melalui gol Federico Valverde pada menit ke-59 dan Mbappé pada menit ke-68.

Gol tersebut menjadi gol pertama Mbappé dalam seragam Madrid sekaligus memastikan trofi pertamanya bersama klub.

Dua tahun kemudian, situasinya terasa jauh berbeda. Melansir MD menyebut, Mbappé datang ke Madrid dengan ekspektasi yang sangat tinggi. Ia diproyeksikan menjadi wajah baru era Galácticos dan pemain yang mampu membawa Madrid kembali mendominasi Eropa.

Secara individual, ia memang memberikan banyak hal. Dalam dua musim pertamanya, Mbappé mencetak puluhan gol dan bahkan dua kali menjadi Pichichi LaLiga.

BACA JUGA:  Nunez Buat Gol Cantik, Liverpool Menang Lagi

Pada musim 2025/26, ia menutup kompetisi sebagai pencetak gol terbanyak LaLiga dengan 25 gol sekaligus menjadi top scorer Champions League dengan 15 gol.

Namun, sepak bola di Madrid tidak hanya diukur dari jumlah gol. Trofi besar justru menjadi bagian yang hilang dari perjalanan Mbappé. Real Madrid gagal merebut LaLiga dalam dua musim terakhir.

Barcelona menjadi juara pada 2024/25 dan kembali mempertahankan gelar pada 2025/26. Bahkan pada musim terakhir, Madrid harus melihat rival abadinya memastikan gelar setelah menang 2-0 dalam El Clásico di Camp Nou.

Di Eropa, situasinya lebih berat lagi. Setelah mengangkat Liga Champions ke-15 pada 2024, Real Madrid tidak mampu mempertahankan mahkota tersebut.

Pada 2025, mereka tersingkir dari Arsenal di perempat final, sedangkan setahun kemudian Bayern Munich kembali menghentikan langkah Madrid di babak yang sama.

Pada akhirnya, Paris Saint-Germain menjadi juara Eropa dua musim beruntun pada 2025 dan 2026.

BACA JUGA:  Sudah Tua, Messi Putuskan Tidak Ikut Olimpiade

Ada pula satu konsekuensi yang langsung terasa bagi Mbappé: Ballon d’Or. Pada 2025, ketika banyak pihak mengharapkannya menjadi kandidat kuat, Mbappé justru hanya finis di posisi ketujuh dengan 378 poin.

Ousmane Dembélé keluar sebagai pemenang setelah membawa PSG meraih Liga Champions, sementara Mbappé harus menerima kenyataan bahwa performa individual tanpa trofi utama tidak cukup untuk memenangkan penghargaan tersebut.

Meski demikian, kisah Mbappé di Madrid belum bisa disebut sebagai kegagalan. Ia telah menunjukkan bahwa dirinya tetap menjadi salah satu penyerang paling produktif di dunia.

Bahkan dalam dua musim pertamanya, ia mampu meraih dua Pichichi secara beruntun, sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya dilakukan oleh nama-nama besar Madrid seperti Alfredo Di Stéfano, Ferenc Puskás, Amancio, Hugo Sánchez dan Cristiano Ronaldo.

Masalahnya adalah satu: Madrid tidak merekrut Mbappé hanya untuk mencetak gol.

Ia datang untuk memenangkan trofi, terutama LaLiga dan Liga Champions. Dan dua tahun setelah malam sempurna di Warsawa, penantian itu masih berlanjut.

BACA JUGA:  Lebah Usir Traktor Boys 4-3 di Gtech

Pada 14 Agustus 2024, Mbappé memulai era Madrid-nya dengan gol dan trofi. Dua tahun kemudian, ia memasuki musim ketiganya dengan statistik yang mengesankan, tetapi dengan pertanyaan yang jauh lebih besar: kapan gol-gol Mbappé akhirnya berubah menjadi trofi terbesar Real Madrid?

Itulah tantangan berikutnya bagi sang bintang Prancis. Di Madrid, mencetak gol adalah kewajiban. Memenangkan gelar adalah ukuran sebenarnya.(maq)