Gasperini Angkat Pasukan Roma ke Puncak Roma

Pemain Roma memberikan selamat kepada Ferguson usai mencetak gol. Foto: via MD

edisiana.com – Roma tampil seperti layaknya raksasa yang baru bangun tidur. Di Celtic Park, tim asuhan Gian Piero Gasperini tak sekadar menang—mereka menghancurkan Celtic 3-0 dalam 45 menit pertama yang tampak seperti pernyataan perang.

Hasil ini mengangkat Giallorossi ke posisi ke-10 fase liga Eropa, hanya terpaut satu poin dari zona elite delapan besar.

Sejak menit-menit awal, tuan rumah dibuat tak bernapas. Matías Soulé membuka ancaman dengan tembakan keras yang memaksa Kasper Schmeichel terbang menepis bola keluar.

Belum sempat Celtic menata diri, Stephan El Shaarawy menerjang dari kiri, melepaskan roket kaki kanan yang hanya melenceng tipis.

Dan akhirnya, kepungan Roma tak terhindarkan. Menit ke-6, sepak pojok yang tampak rutin berubah menjadi neraka bagi Celtic.

BACA JUGA:  Azerbaijan Dibungkam 0-2 di Kandang Sendiri oleh Selandia Baru

Scales berusaha menghalau bola yang mengarah ke Gianluca Mancini, namun sundulan sang bek, meski membentur mistar, tetap memantul masuk. 0-1, dan Celtic Park langsung membeku.

Tak berhenti di situ. Evan Ferguson, pemain pinjaman yang tampak tampil seperti predator alami, memaksakan bola masuk dari jarak sangat dekat—sebuah penyelesaian kaki kiri yang tak memberi ampun.

Dan sebelum Celtic bisa meresapi apa yang terjadi, Ferguson kembali mematikan harapan tuan rumah lewat gol keduanya: tembakan rendah ke sudut kiri bawah, membuat skor memerah 0-2.

Padahal Celtic sempat mendapatkan hadiah penalti—secercah harapan yang cepat padam. Arne Engels, yang ditunjuk sebagai eksekutor, justru membentur tiang kiri. Stadium terdiam; Roma tersenyum.

BACA JUGA:  Meksiko Menang Tipis 3-2 atas Republik Dominika di Laga Pembuka Piala Emas

Jelang turun minum, tensi meninggi. Baik El Shaarawy maupun Mario Hermoso menerima kartu kuning, tanda bahwa Roma melawan dengan api, bukan hanya teknik.

Celtic membuka babak kedua dengan satu misi: balikkan keadaan. Dan mereka sempat merayakan. Kelechi Iheanacho mencetak gol yang tampak sah—namun VAR datang sebagai penjaga mimpi buruk. Setelah review, gol dianulir. Harapan kembali runtuh.

Celtic mencoba lagi. Reo Hatate menusuk jantung pertahanan Roma dan melepaskan tembakan keras yang mengarah ke sudut atas. Tapi Mile Svilar, malam ini tampil seperti tembok baja, menepisnya dengan gemilang.

Roma mempertahankan kontrol, Celtic kehabisan waktu, dan saat peluit akhir berbunyi, hasilnya jelas:

BACA JUGA:  Jan Oblak: Kamis Tidak Pantas Kalah

Roma mengirim pesan tegas ke seluruh Eropa.

Dengan kemenangan ini, Giallorossi naik ke posisi 10, hanya satu poin dari delapan besar yang langsung lolos ke babak 16 besar. Gasperini tersenyum—Roma-nya mulai terasa seperti mesin yang siap melaju jauh.(maq)