edisiana.com – Pertarungan liar di Liga Eropa menghadirkan drama tujuh gol, ketegangan sampai detik terakhir, dan kebangkitan yang membuat stadion berguncang. FCSB menang 4-3 atas Feyenoord dalam duel yang benar-benar locura total.
FCSB membuka pesta gol lewat skema bola mati. Sepak pojok Risto Radunovic meluncur tajam, dan Siyabonga Ngezana muncul bak torpedo—boom!—sundulan kerasnya dari tengah kotak penalti menembus pojok kiri atas. Penonton pun pecah menjadi lautan euforia.
Namun Feyenoord tak datang untuk menyerah. Menjelang turun minum, tim tamu membalas lewat Casper Tengstedt, yang menanduk umpan sepak pojok Luciano Valente ke sudut kiri bawah.
Belum selesai drama babak pertama, dua menit berselang Quinten Timber meniru skenario Tengstedt: sundulan, sudut kiri bawah, dan Feyenoord berbalik unggul.
Babak kedua? Kekacauan total. Laga menjadi duel terbuka tanpa rem. Pada menit ke-51, Feyenoord menambah luka tuan rumah lewat Leo Sauer yang menuntaskan umpan terobosan Jordan Bos. Skor 1-3, stadion sempat terdiam.
Tapi FCSB menolak tumbang. Mihai Toma memulai kebangkitan lewat sundulan jarak sangat dekat ke tengah gawang—gol yang menghidupkan kembali atmosfer panas di Bucharest.
Dan ketika waktu mulai menipis, FCSB menemukan napas baru. Menit ke-86, Mamadou Thiam menyambar umpan silang Valentin Cretu dengan sundulan yang mengarah mulus ke sudut kiri bawah. 3-3. ¡Partidazo!
Puncaknya datang pada menit ke-95. Florin Tanase, sang kapten, muncul sebagai pahlawan. Bola liar di depan gawang, satu sentuhan dengan kaki kanan, mengarah ke sudut kiri bawah. Gol kemenangan. Gol kegilaan. Gol yang menggetarkan seluruh tribune.
FCSB 4–3 Feyenoord.
Sebuah malam Eropa yang akan lama dibicarakan: penuh emosional, penuh karakter, penuh drama—seperti yang hanya bisa diberikan sepak bola.(maq)










