edisiana.com – Real Madrid kembali tersandung di malam Eropa, dan kali ini lukanya terasa dalam. Pasukan Xabi Alonso kalah 1-2 dari Manchester City pada laga Liga Champions Kamis dini hari—hasil yang membuat bayang-bayang krisis mulai menjalari ruang ganti Los Blancos.
Pertandingan bahkan nyaris dimulai dengan pesta bagi Madrid. Baru dua menit berjalan, Matheus Nunes menabrak Vinicius Jr dan wasit langsung menunjuk titik putih.
Namun setelah intervensi VAR, keputusan dibalik: hanya tendangan bebas di tepi kotak. Bernabeu mendesis kecewa. Federico Valverde hampir mengobati frustrasi itu, tapi tembakannya melayang tipis di samping gawang.
Tak lama kemudian, Vinicius mencoba peruntungan dengan sepakan melengkung yang masih melambung.
City, yang sempat goyah di awal, akhirnya menemukan ritme dan menguasai bola. Tapi justru ketika mereka mulai nyaman, Madrid menusuk lewat serangan balik mematikan.
Jude Bellingham mengirim umpan silang menawan, Rodrygo menyambutnya dengan sepakan keras—gol pertamanya sejak Januari, dan Bernabeu pun meledak.
Namun kegembiraan itu hanya bertahan tujuh menit. Dari peluang pertama yang benar-benar berarti, City menyamakan kedudukan.
Sundulan Josko Gvardiol memaksa Courtois melakukan tepisan berbahaya, bola jatuh manis di kaki bek muda akademi, Nico O’Reilly, yang tinggal menyelesaikan tugas dari jarak dekat. Diam. Bernabeu kembali senyap.
Menjelang jeda, petaka datang. Erling Haaland dijatuhkan Rudiger di dalam kotak penalti, dan sang mesin gol tak menyia-nyiakan kesempatan dari titik putih.
City balik memimpin, dan Madrid terlihat rapuh. Andai bukan karena refleks luar biasa Courtois, pasukan Guardiola bisa saja mengakhiri laga lebih awal.
Babak kedua menjadi upaya panik Los Blancos untuk meraih penyelamat. Bellingham mencoba lob yang hanya mengelus mistar gawang.
Endrick, masuk sebagai pemain pengganti, hampir menjadi pahlawan—sundulannya menghantam tiang dan memaksa fans menggigit bibir.
Tapi City berdiri kokoh, bertahan dengan disiplin, dan membawa pulang kemenangan yang bergema.
Sementara itu, melansir BBC, tekanan kini mengarah penuh kepada Xabi Alonso. Bernabeu menuntut jawaban, dan waktu untuk sang entrenador mulai terasa sangat sempit.(maq)










