edisiana.com — Malam yang kelam di Kassam Stadium. Oxford United, klub milik pengusaha Indonesia, benar-benar tak berdaya di hadapan Stoke City. Skor akhir 0-3, dan lebih dari sekadar kekalahan—ini adalah tamparan keras bagi tim yang kini terperosok ke posisi ke-19 klasemen Championship.
Musim ini seperti mimpi buruk bagi The U’s. Enam kekalahan, dua hasil imbang, dan performa yang kian menurun membuat para pendukung hanya bisa menunduk lesu.
Padahal, pertandingan Rabu dini hari itu sempat menjanjikan harapan. Baru satu menit berjalan, peluang emas hadir. Brian de Keersmaecker cerdik mendaur ulang bola hasil sepak pojok, lalu melepaskan umpan silang sempurna ke arah Greg Leigh.
Tanpa kawalan, gawang terbuka lebar di depannya — tapi sundulannya malah melenceng! Sebuah kesempatan emas yang dibuang percuma.
Dan, seperti hukum tak tertulis dalam sepak bola: jika kau tak mencetak gol, kau akan dihukum. Menit ke-10, Stoke menyengat dengan serangan balik kilat.
Sorba Thomas memimpin arus, mengirim Million Manhoef melaju deras menembus pertahanan Oxford. Bola diteruskan ke kiri, ke Divin Mubama — tendangannya ditepis kiper Jamie Cumming, namun Baker sudah di sana, menyambar bola untuk gol pembuka.
Baker belum selesai. Ia menjadi arsitek untuk gol kedua yang membungkam stadion. Dari sepak pojoknya, bola melayang ke tiang dekat.
Si veteran elegan, Steven Nzonzi — ya, sang juara Liga Europa dan Piala Dunia — muncul untuk menyelesaikannya dengan sentuhan halus kaki bagian samping. Kelas dunia. 0-2.
Sebelum jeda, peluang emas datang lagi untuk Oxford. Placheta berdiri bebas, tapi tembakannya justru melebar. Seolah dewi fortuna enggan menoleh ke arah mereka malam itu.
Babak kedua baru dimulai tiga menit, dan Baker kembali jadi mimpi buruk. Serangan cepat dari kanan, Junior Tchamadeu menusuk dan mengirim bola kembali ke Baker.
Tendangan pertamanya diblok, tapi pantulan bola kembali ke kakinya—dan kali ini, kaki kirinya menuntaskannya tanpa ampun. 0-3. Game over.
Menukil BBC, Stoke kini melaju kencang di posisi kedua klasemen, hanya terpaut sedikit dari tim asuhan Frank Lampard yang memimpin. Akhir pekan ini, laga besar menanti.
Oxford? Mereka tertinggal jauh di dasar papan tengah, hanya 13 poin, dan krisis tampak kian dalam. Satu hal pasti: jika tak segera berubah, musim ini bisa jadi perjalanan panjang yang menyakitkan bagi klub Ole Romeny.(maq)









