FILIPE LUIS DIPECAT SETELAH PESTA DELAPAN GOL!

edisiana.com – Drama tengah malam di Rio de Janeiro! Hanya beberapa jam setelah pesta 8-0 yang membawa Flamengo ke final Campeonato Carioca, manajemen klub secara mengejutkan memecat Filipe Luis dari kursi pelatih.

Keputusan diumumkan tepat pukul 00:59 waktu setempat. Sebuah pernyataan singkat, dingin, tanpa banyak kata. Padahal, malam itu publik Maracanã masih larut dalam euforia kemenangan agregat 11-0 atas Madureira.

Mesin Trofi yang Tak Cukup?

Sejak menggantikan Tite pada September 2024, Filipe Luis menjelma menjadi mesin trofi. Dalam 100 pertandingan, ia mempersembahkan tujuh gelar — rata-rata satu trofi setiap 14 laga!

BACA JUGA:  Gol Bunuh Diri Turki Antarkan Belanda ke Semifinal

Mahakarya terbesarnya? Membawa Flamengo menjuarai Copa Libertadores 2025. Sebuah pencapaian yang mengukuhkan namanya dalam sejarah klub.
Namun sepak bola tak pernah mengenal rasa puas.

Tahun 2026 menjadi noda: dua final beruntun berakhir pahit — runner-up di Supercopa do Brasil dan Recopa Sudamericana.Dan ternyata, itu cukup bagi direksi untuk menarik rem darurat.

Final Tanpa Sang Arsitek

Ironisnya, Flamengo kini bersiap menghadapi Fluminense di final Campeonato Carioca hari Minggu. Peluang meraih gelar ketiga beruntun terbuka lebar — tetapi tanpa sang arsitek di bangku cadangan.

BACA JUGA:  Pengundian Piala Dunia 2026 Diperkirakan Digelar di Las Vegas, Meksiko Siapkan Lokasi Kamp Pelatihan

Klub juga mengonfirmasi bahwa asisten Ivan Palanco dan pelatih fisik Diogo Linhares turut meninggalkan tim.
“Filipe Luis tidak akan lagi bertanggung jawab atas tim profesional… Flamengo mengucapkan terima kasih atas semua yang telah diraih dan mendoakan kesuksesan dalam kariernya,” kata klubnya dinukil dari BBC pada hari ini.

Dari Stamford Bridge ke Maracanã
Sebelum sukses sebagai pelatih, Filipe Luis dikenal sebagai bagian dari skuad juara Liga Primer 2015 bersama Chelsea di bawah komando Jose Mourinho.

BACA JUGA:  Suarez Pensiun, Ronaldo dan Messi Kapan?

Kini, kisahnya di Flamengo berakhir dramatis — bukan setelah kekalahan, tetapi setelah kemenangan terbesar musim ini. Sepak bola memang tak pernah menunggu. Bahkan untuk pesta delapan gol.(maq)