edisiana.com – Valencia pulang dari Vallecas dengan satu poin yang terasa seperti emas, berkat aksi penyelamat last minute hero Diego López dalam duel panas pekan ke-14 La Liga.
Rayo Vallecano, di hadapan publiknya sendiri, tampil jauh lebih agresif, lebih hidup, dan lebih berbahaya—namun tetap saja harus puas berbagi angka.
Sejak menit pertama, badai merah-putih menggulung lini belakang Los Che. Jorge de Frutos menjadi pemain pertama yang menguji refleks Julen Agirrezabala.
Sebuah tembakan keras dari sisi kiri kotak penalti memaksa sang kiper terbang penuh gaya. Tak lama berselang, Unai López datang dengan misil dari sudut sempit di sisi kanan. Dan lagi-lagi, Agirrezabala berkata: “Tidak hari ini.”
Akhirnya tembok itu retak juga. Lewat skema sederhana namun mematikan, Gerard Gumbau mengirim umpan silang presisi yang disundul Nobel Mendy ke pojok kanan atas. Vallecas bergemuruh, dan Rayo memimpin dengan pantas.
Babak kedua? Narasinya tak berubah. Rayo terus menghantam, menguasai, mengurung—tapi tak menemukan kreativitas yang bisa menuntaskan dominasi mereka.
Ketika Gumbau mencoba menambah keunggulan lewat tembakan mendatar ke pojok kiri bawah, Agirrezabala lagi-lagi menjadi penyelamat Valencia.
Dan sepak bola, seperti biasa, penuh ironi. Dari sebuah tendangan sudut, Valencia membalik cerita. Bola jatuh ke kaki Diego López, yang tanpa ragu menghajar bola menembus tengah gawang. Sunyi seketika di Vallecas.
Tersengat, Rayo menggila di menit-menit akhir. Mereka melemparkan semua amunisi, tetapi malam itu Agirrezabala menjelma menjadi tembok penghalang tiga poin. Peluit akhir berbunyi, dan Valencia—meski menderita sepanjang laga—tertawa paling akhir.
Satu poin, namun rasanya seperti kemenangan bagi Los Che.(maq)










