edisiana.com – Dua puluh satu tahun penantian, dua dekade frustrasi, dan akhirnya RC Lens kembali berdiri di singgasana Ligue 1.
Pada Ahad malam, di kandang Angers yang panas, Les Sang et Or mengukir kemenangan penting 1-2—kemenangan yang menggema seperti deklarasi kekuasaan baru di sepak bola Prancis.
Florian Thauvin menjadi bintang yang menyalakan api kebangkitan. Menjelang jeda, winger flamboyan itu mengirim tembakan melengkung ke pojok kiri atas.
Gol yang terasa seperti tanda tangan resmi bahwa Lens tidak sekadar mampir di papan atas—mereka datang untuk memimpin.
Di babak kedua, Thauvin kembali mematuk. Gerakan presisi, sepakan bertenaga, dan Lens menggenggam kendali 0-2.
Angers sempat memperkecil skor menjadi 1-2, tetapi itu tidak lebih dari sekadar catatan kecil dalam malam yang identitasnya sudah ditentukan: Lens menguasai Ligue 1.
Dengan 31 poin, anak asuh Pierre Sage kini menatap semua dari ketinggian, hanya terpaut satu angka dari Paris Saint-Germain yang tercekat oleh performa labil akhir pekan lalu.
Menukil MD, Marseille, rival historis lainnya, juga tersandung—membuka jalan bagi Lens untuk melancarkan kudeta sempurna.
Empat kemenangan beruntun, pertahanan paling kukuh di liga, dan momentum yang tak terbendung.
Lens bukan lagi cerita nostalgia 20 tahun yang lalu. Mereka adalah realitas baru Ligue 1.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, angin kompetisi di Prancis terasa berbeda—tak lagi berputar di Paris, tapi menuju utara, ke wilayah yang sudah terlalu lama menunggu kejayaannya kembali.(maq)










