Kisah Pelatih Hebat Dunia (Bagian-1): Waktu Remaja Wenger Pernah Jualan Rokok

877

Bola, edisiana.com – Arsene Wenger telah punya jabatan baru di Federation of International Football Association (FIFA). Ia memilih jadi Kepala Pembinaan Sepak Bola Global di FIFA daripada menerima tawaran Bayern Munchen untuk menukangi Die Roten. Bagaimanakah kisah Pelatih Hebat Dunia tersebut dari kecil hingga sesukses ini? Berikut ceritanya.

Dia lahir di Strasbourg, Timur Laut Perancis, 22 Oktober 1949. Sang ayah bernama Alphonse Wenger dan ibunya Louise Wenger.

BACA JUGA:  Kendati Menang, Bos Brighton Nilai Penampilan Terburuk

Arsene Wenger termasuk pemain beruntung. Lahir di keluarga yang pebisnis. Ayahnya, Wenger adalah seorang manajer sepakbola, tapi klub amatiran, dan sekaligus memiliki usaha menjual suku cadang mobil. Sedangkan ibunya pemilik warung makan.

Sedari kecil Arsene sudah hidup mandiri. Ia dipindahkan ayahnya ke Dettlanheim. Hanya 20 kilometer dari perbatasan negara Jerman. Di daerah jumlah penduduk enam ribu jiwa itu Arsene dijaga oleh ibunya Louise.

BACA JUGA:  Sheffield vs City, Bagaikan Laga Dongeng

Di sinilah Arsene mengenal sepak bola. Dari kota ini banyak talenta-talenta bola yang berkat. Sesekali kala Wenger datang, Arsene kala usia lima tahun diajari cara bermain bola yang baik. Sampai umur 15 tahun Arsene masih bermain tim kampung.

Di kota kecil di Paris itu, kehidupan Arsene Wenger mengalami kesulitan. Karena itu, selepas belajar bermain bola, membantu ibunya. Arsene berjualan rokok demi mencari tambahan.

Wenger akhirnya menyuruh Arsene mencari klub yang profesional. Akhir dia mengenyam bola di As Mutzig, devisi tiga Prancis. Posisinya sebagai bek. Di sini Arsene mengembangkan bakat bolanya.

BACA JUGA:  Chelsea! Kalau Mau Lepas Mount Nilainya £55 Juta

Pada tahun 1978 dia bergabung dengan klub RC Strasbourg. Dan mencicipi pertandingan melawan Monaco. Namun, karir sepakbolanya hanya berlangsung singkat. Tak ada peroleh mendali yang dia dapat. Malah ditunjuk sebagai pelatih kala usia muda. Tentu berat, karena belum punya banyak pengalaman. (maq/bersambung)

BAGIKAN